Tampilkan postingan dengan label Rumah Pedas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Pedas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Oktober 2014

Soal Rasa (Rizki & Jodoh) - Ust Salim A Fillah






Aku tahu, rizqiku takkan diambil orang, karenanya hatiku tenang..
Aku tahu, ‘amalku takkan dikerjakan orang, karenanya kusibuk berjuang..
-Hasan Al Bashri-

Pemberian uang yang sama-sama sepuluh juta, bisa jadi sangat berbeda rasa penerimaannya. Kadang ia ditentukan oleh bagaimana cara menghulurkannya.
Jika terada dalam amplop coklat yang rapi lagi wangi, dihulurkan dengan senyum yang harum dan sikap yang santun, betapa berbunga-bunga kita menyambutnya. Apatah lagi ditambah ucapan yang sopan dan lembut, “Maafkan sangat, hanya ini yang dapat kami sampaikan. Mohon diterima, dan semoga penuh manfaat di jalan kebaikan.”
Ah, pada yang begini, jangankan menerima, tak mengambilnya pun tetap nikmat rasanya. Semisal kita katakan, “Maafkan Tuan, moga berkenan memberikannya pada saudara saya yang lebih memerlukan.” Lalu kita tahu, ia sering berjawab, “Wah, jika demikian, kami akan siapkan yang lebih baik dan lebih berlimpah untuk Anda. Tapi mohon tunggu sejenak.”
Betapa berbeda rasa itu, dengan jumlah sepuluh juta yang berbentuk uang logam ratusan rupiah semuanya. Pula, ia dibungkus dengan karung sampah yang busuk baunya. Diberikan dengan cara dilempar ke muka, diiringi caci maki yang tak henti-henti. Betapa sakitnya. Betapa sedihnya. Sepuluh juta itu telah hilang rasa nikmatnya, sejak mula ia diterima.
Inilah di antara hakikat rizqi, bahwa ia bukan soal berapa. Sungguh ia adalah nikmat yang kita rasa. Sebab sesungguhnya, ia telah tertulis di langit, dan diterakan kembali oleh malaikat ketika ruh kita ditiupkan ke dalam janin di kandungan Ibunda. Telah tertulis, dan hendak diambil dari jalan manapun, hanya itulah yang menjadi jatah kita. Tetapi berbeda dalam soal rasa, karena berbeda cara menghulurkannya. Dan tak samanya cara memberikan, sering ditentukan bagaimana adab kita dalam menjemput dan menengadahkan tangan padaNya.
Rizqi memiliki tempat dan waktu bagi turunnya. Ia tak pernah terlambat, hanyasanya hadir di saat yang tepat.
“Janganlah kalian merasa bahwa rizqi kalian datangnya terlambat”, demikian sabda Rasulullah yang dibawakan oleh Imam ‘Abdur Razzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, “Karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba meninggal, hingga telah datang kepadanya rizqi terakhir yang ditetapkan untuknya. Maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, yaitu dengan  yang halal dan meninggalkan yang haram.”
Jika jodoh adalah bagian dari rizqi, boleh jadi berlaku pula kaidah yang sama. Sosok itu telah tertulis namanya. Tiada tertukar, dan tiada salah tanggal. Tetapi rasa kebersamaan, akan ditentukan oleh bagaimana adab dalam mengambilnya. Bagi mereka yang menjaga kesucian, terkaruniakanlah lapis-lapis keberkahan. Bagi mereka yang mencemarinya dengan hal-hal mendekati zina, ada kenikmatan yang kan hilang meski pintu taubat masih dibuka lapang-lapang. Sebab amat berbeda, yang dihulurkan penuh keridhaan, dibanding yang dilemparkan penuh kemurkaan.
Rizqi adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian. Ujian yang menentukan rasa kehidupan. Di lapis-lapis keberkahan dalam setetes rizqi, ada perbincangan soal rasa. Sebab ialah yang paling terindra dalam hayat kita di dunia.
***
Di antara makna rizqi adalah segala yang keluar masuk bagi diri dengan anugrah manfaat sejati. Nikmat adalah rasa yang terindra dari sifat maslahatnya. Kasur yang empuk dapat dibeli, tapi tidur yang nyenyak adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di alas koran yang lusuh, dan bukan di ranjang kencana yang teduh. Hidangan yang mahal dapat dipesan, tetapi lezatnya makan adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di wadah daun pisang bersahaja, bukan di piring emas dan gelas berhias permata.
Atau bahkan, ada yang memandang seseorang tampak kaya raya, tapi sebenarnya Allah telah mulai membatasi rizqinya.
Ada yang bergaji 100 juta rupiah setiap bulannya, tapi tentu rizqinya tak sebanyak itu. Sebab ketika hendak meminum yang segar manis dan mengudap yang kue yang legit, segera dikatakan padanya, “Awas Pak, kadar gulanya!” Ketika hendak menikmati hidangan gurih dengan santan mlekoh dan dedagingan yang lembut, cepat-cepat diingatkan akannya, “Awas Pak, kolesterolnya!” Hatta ketika sup terasa hambar dan garam terlihat begitu menggoda, bergegaslah ada yang menegurnya, “Awas Pak, tekanan darahnya!”
Rasa nikmat itu telah dikurangi.
Lagi-lagi, ini soal rasa. Dan uang yang dia himpunkan dari kerja kerasnya, amat banyak angka nol di belakang bilangan utama, disimpan rapi di Bank yang sangat menjaga rahasia, jika dia mati esok pagi, jadi rizqi siapakah kiranya? Apa yang kita dapat dari kerja tangan kita sendiri dan kita genggam erat hari ini, amat mungkin bukan hak kita. Seperti hartawan yang mati meninggalkan simpanan bertimbun. Mungkin itu mengalir ke ahli warisnya, atau bahkan musuhnya. Allah tak kekurangan cara untuk mengantar apa yang telah ditetapkanNya pada siapa yang dikehendakiNya.
Rizqi sama sekali bukan yang tertulis sebagai angka gaji.
Seorang pemilik jejaring rumah makan dari sebuah kota besar Pulau Jawa, demikian cerita shahibul hikayat yang kami percaya, dengan penghasilan yang besarnya mencengangkan, punya kebiasaan yang sungguh lebih membuat terkesima. Sepanjang hidupnya, tak pernah dia bisa berbaring di kasur, apalagi ranjang berpegas. Dia hanya bisa beristirahat jika menggelar tikar di atas lantai dingin, tepat di depan pintu.
Rizqi sama sekali bukan soal apa yang sanggup dibeli.
Ada lagi kisah tentang seorang pemilik saham terbesar sebuah maskapai penerbangan yang terhitung raksasa di dunia. Armada pesawat yang dijalankan perusahaannya lebih dari 100 jumlahnya. Tetapi dia menderita hyperphobia, yakni rasa takut terhadap ketinggian. Seumur hidupnya, yang bersangkutan tak pernah berani naik pesawat.
Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dikuasai.
Sebaliknya pula, ada seorang lelaki bersahaja yang tidak mampu membeli mobil sepanjang hidupnya. Tapi sungguh Allah telah menetapkan bahwa rizqinya adalah naik mobil ke mana-mana. Maka para tetangga selalu berkata bergiliran padanya, “Mas, tolong hari ini pakai mobil saya untuk kegiatannya ya. Saya senang kalau Mas yang pakai. Sungguh karenanya terasa ada berkah buat kami sekeluarga.” Dan pemilik mobil pergi bekerja ke kantornya dengan mengayuh sepeda. Sebab itulah yang disarankan dokter padanya.
Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dimiliki.
***
Dzat Yang Mencipta kita, sekaligus menjamin rizqi bagi penghidupan kita, adalah Pemilik, Pemelihara, dan Pengatur segala urusan kita. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tiada sekutu bagiNya. Maka bagaimana kiranya, jika anugrah dariNya justru kita gunakan untuk mendurhakaiNya? Maka apa jadinya, jika dengan karuniaNya kita malah tenggelam dalam maksiat dan dosa?
“Sesungguhnya seseorang dihalangi dari rizqinya”, demikian Rasulullah bersabda sebagaimana dicatat oleh Imam Ahmad, “Disebabkan dosa yang dilakukannya.”
Ada beberapa keterangan ‘ulama tentang dosa menghalangi rizqi ini, yang selaiknya kita simak. Pertama, bahwa memang yang bersangkutan terhalang dari rizqinya, hingga ke bentuk zhahir rizqi itu. Ini sebagaimana firman Allah tentang dakwah Nuh pada kaumnya.
“Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan di dalamnya sungai-sungai.” (QS Nuh [71]: 10-12)
“Maknanya”, demikian ditulis Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirul Quranil ‘Azhim, “Jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa mentaatiNya, niscaya Dia akan membanyakkan rizqi kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit.”
“Selain itu”, lanjut beliau, “Dia juga akan mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya terdapat bermacam-macam buah untuk kalian, serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu untuk kalian.”
Jika bertaubat menjadikan berlimpahnya bentuk rizqi, maka berdosa berarti membatalkan semua itu. Ini pemahaman pembalikannya.
Keterangan yang kedua, bahwasanya yang dihalangi dari si pendosa adalah rasa nikmat yang dikaruniakan Allah dari berbagai bentuk rizqi tersebut. Rizqi tetap hadir, tapi rasa nikmatnya dicabut. Rizqi tetap turun, tapi rasa lezatnya dihilangkan. “Maka”, demikian menurut Imam An Nawawi, “Karena dosa yang menodai hatinya, hamba tersebut kehilangan kepekaan untuk menikmati rizqinya dan mensyukuri nikmatnya. Dan ini adalah musibah yang sangat besar.”
Hujjah bahwa semua bentuk rizqi itu tetap turun, ada dalam berbagai hadits Rasulillah. Ada yang sudah kita sebut, demikian pula yang berikut ini:
“Sesungguhnya Jibril mengilhamkan ke dalam hatiku”, demikian sabda Rasulullah dalam riwayat Imam Ath Thabrani dan Al Baihaqi, “Bahwa tidak ada satu pun jiwa yang meninggal kecuali telah sempurna rezekinya. maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezeki. Jangan sampai lambatnya rezeki menyeret kalian untuk mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah, karena apa yang ada pada sisi Allah tidak akan bisa diperoleh dengan bermaksiat kepada-Nya.”
“Apa yang ada di sisi Allah”, demikian lanjut Imam An Nawawi, “Adalah ridhaNya yang menjadikan rizqi itu ternikmati di dunia, berkah senantiasa, dan menjadi pahala di akhirat. Maka memang ia tak dapat diraih dengan kemaksiatan dan dosa.”
“Adapun ayat dalam Surah Nuh”, terusnya, “Khithab da’wahnya ditujukan kepada orang kafir, yang meskipun mereka mengingkari Allah dan menyekutukanNya, tapi Allah tidak memutus rizqi mereka secara mutlak. Akan tetapi, jika mereka beristighfar dan bertaubat, sesungguhnya karunia yang lebih besar pastilah Allah limpahkan.”
Menghimpun kedua catatan ini, amat jadi renungan sebuah kisah tentang Imam Hasan Al Bashri. Pada suatu hari, seorang lelaki datang kepada beliau. “Sesungguhnya aku”, ujarnya pada Tabi’in agung dari Bashrah itu, “Melakukan banyak dosa. Tapi ternyata rizqiku tetap lancar-lancar saja. Bahkan lebih banyak dari sebelumnya.”
Sang Imam tersenyum prihatin. Beliau lalu bertanya, “Apakah semalam engkauqiyamullail wahai Saudara?”
“Tidak”, jawabnya heran.
“Sesungguhnya jika Allah langsung menghukum semua makhluq yang berdosa dengan memutus rizqinya”, jelas Hasan Al Bashri, “Niscaya semua manusia di bumi ini sudah habis binasa. Sungguh dunia ini tak berharga di sisi Allah walau sehelai sayap nyamukpun, maka Allah tetap memberikan rizqi bahkan pada orang-orang yang kufur kepadaNya.”
“Adapun kita orang mukmin”, demikian sambung beliau, “Hukuman atas dosa adalah terputusnya kemesraan dengan Allah, Subhanahu wa Ta’ala.”
***
Lagi-lagi terrenungi, bahwa di lapis-lapis keberkahan, ini soal rasa. Semoga Allah melimpahkan rizqiNya kepada kita, dan menjaga kita dari bermaksiat padaNya. Dengan begitu, sempurnalah datangnya nikmat itu dengan kemampuan kita menikmati rasa lezatnya, lembutnya, dan harumnya. Di lapis-lapis keberkahan, soal rasa adalah terjaganya kita dari dosa-dosa.

sepenuh cinta, dinukil dari:
Lapis-Lapis Keberkahan, Setitis Rizqi

sumber : http://salimafillah.com/rizqi-kita-soal-rasa/


Renungan Tentang Jodoh Untuk Pemuda

~ Sebuah Ringkasan ~
PERTAMA: Satu hal yang seringkali dilupakan oleh banyak wanita adalah bahwa kemuliaan wanita tidak bergantung pada laki-laki yang mendampinginya. Tahu darimana?
Allah meletakkan nama dua wanita mulia dalam Al Quran: Maryam dan Asiah.
Kita tahu, Maryam adalah wanita suci yang tidak memiliki suami, dan Asiah adalah istri dari manusia yang sangat durhaka, Firaun. Apakah status itu mengurangi kemuliaan mereka? NO!
Itulah mengapa, bagi wanita di zaman Rasulullah dulu, yang terpenting bukan mendapat jodoh di dunia atau tidak, melainkan bagaimana memperoleh kemuliaan di sisi Allah.
KEDUA: Bagaimana pandangan tentang jodoh?
Bicara jodoh adalah bicara tentang hal yang jauh: akhirat, surga, ridha Allah, bukan semata-mata dunia.
KETIGA: Bagaimana tentang nasib dalam perjodohan?
Jodoh itu sudah tertulis. Tidak akan tertukar. Yang kemudian menjadi ujian bagi kita adalah bagaimana cara menjemputnya.
Beda cara, beda rasa. Dan tentu saja, beda keberkahannya.
KEEMPAT: Bagaimana tentang hal nafkah rezeki?
Dalam hal rezeki, urusan kita adalah bekerja. Soal Allah mau meletakkan rezeki itu dimana, itu terserah Allah. Begitupun jodoh, urusan kita adalah ikhtiar. Soal Allah mau mempertemukan dimana, itu terserah Allah.
KELIMA: Bagaimana cara menjemput jodoh?
Cara Allah memberi jodoh tergantung cara kita menjemputnya. Satu hal yang Allah janjikan, bahwa yang baik untuk yang baik. Maka, mengupayakan kebaikan diri adalah hal utama dalam ikhtiar menjemput jodoh.
KEENAM: Bagaimana tentang taaruf?
Dalam urusan jodoh, ta’aruf adalah proses seumur hidup.
Rumus terpenting: Jangan berekspektasi berlebihan dan jangan merasa sudah sangat mengenal sehingga berhak menafsirkan perilaku pasangan.
KETUJUH: Bagaimana cara mengenali calon pasangan yang baik?
Salah satu cara efektif mengenali calon pasangan yang baik adalah melihat interaksinya dengan empat pihak, yakni interaksinya ke Allah, ibunya, teman sebayanya, dan anak-anak.
KEDELAPAN: Seperti apa bentuk ikhtiar wanita?
1. Meminta kepada walinya, sebab merekalah yang punya kewajiban menikahkan.
2. Meminta bantuan perantara, misal guru, teman, dll. Tapi pastikan perantara ini tidak memiliki kepentingan tertentu yang menyebabkannya tidak objektif.
3. Menawarkan diri secara langsung. Hal ini tidak dilarang oleh syariat. Bisa dilakukan dengan menemuinya langsung atau melalui surat dengan tulisan tangan. Konsekuensinya satu: Ditolak. Tapi itu lebih baik daripada digantung.
KESEMBILAN: Bagaimana jika ada pria yang datang pada wanita, menyatakan rasa suka, tapi meminta ditunggu dua atau tiga tahun lagi? Perlukah menunggu?
Sabar itu memang tidak ada batasnya. Tapi ada banyak pilihan sabar.
Silakan pilih: Mau sabar menunggu, atau sabar dalam merelakannya berlalu.
Satu hal yang pasti, tidak ada jaminan dua tiga tahun lagi dia masih hidup.
Pun tidak ada jaminan kita bisa menuntut jika dia melanggar janjinya, kecuali dia mau menuliskan janjinya dengan tinta hitam diatas kertas putih bermaterai.
KESEPULUH: Bagaimana jika ada pria yang jauh dari gambaran ideal seorang pangeran tapi shalih datang melamar? Bolehkah ditolak?
Tanyakan pada hatimu: Mana diantara semua faktor itu yang paling mungkin membawamu dan keluargamu ke syurga?
Sekian.
Semoga bermanfaat.
oleh ust Salim A. Fillah sebagaimana yang disampaikan di masjid UI Depok
~ copast notes tetangga # Irfan Hidayat #



sumber : http://myfitriblog.wordpress.com/2014/03/23/jodoh-dipilih-atau-memilih-byustadz-salim-a-fillah/

Jumat, 29 Agustus 2014

Pelajaran dari Sejarah Kekalahan

 Oleh : M Anis Matta


 

Laki-laki pemberani itu terbujur kaku dengan dada tercabik-cabik. Sadis. Itulah jasad Hamzah bin Abdul Muththalib, paman dan saudara sepersusuan Rasulullah Saw yang syahid dalam Perang Uhud. Tangis Rasulullah Saw pun pecah. Isak tangisnya terdengar seperti rintihan. Walaupun dengan kesedihan yang tiada terkatakan, akhirnya, jenazah "Tuan Para Syuhada" itu dikafankan dengan kafan yang tidak sampai menutup kedua kakinya, lalu dikuburkan bersama saudara sepupu dan sepersusuannya, Abdullah bin Jahsyi, dalam satu liang.

"Tidak pernah beliau terlihat sedih sesedih itu. Tidak juga pernah terlihat beliau menangis sekeras itu," kata Ibnu Mas'ud. Panorama para syuhada itu memang sangat mengiris hati. Di sana terbaring 65 orang sahabat beliau dari kaum Anshar, 4 orang dari kaum Muhajirin, dan seorang dari kaum Yahudi yang telah memeluk Islam. Angka 70 orang syuhada itu terlalu banyak. Bandingkanlah dengan syuhada Badar yang hanya berjumlah 14 orang, atau dengan jumlah korban tewas dari kaum Musyrikin yang hanya berjumlah 37 orang.

Mungkin, memang tidak tepat menyebut peristiwa itu sebagai kekalahan, setidak-tidaknya jika dilihat dengan lensa keimanan. Akan tetapi, biarlah dalam hitungan peperangan kita menganggap itu sebagai sebuah kekalahan. Itulah yang membuat Rasulullah Saw begitu terpukul, begitu sedih, sampai beliau menangis tersedu-sedu; sebuah tangis yang tidak pernah diulanginya sepanjang hidupnya. Bahkan, beberapa hari sebelum beliau wafat, beliau menyempatkan diri mengunjungi kuburan para syuhada Uhud. Para sahabat yang menyaksikan kesedihan beliau itu merasakan kesedihan yang lebih mendalam, sekaligus diliputi perasaan bersalah yang mengguncang batin mereka.


Kekalahan yang Mengilhami 


Meskipun demikian, Allah Swt tidak menginginkan mereka berlarut dalam kesedihan. Memang kesedihan adalah tabiat hati dan hak jiwa, tetapi selalu ada batas yang wajar untuk sebuah emosi. Maka, di tengah deraan kesedihan itulah Allah Swt menurunkan bimbingan-Nya. Itulah salah satu cara Allah Swt memberikan pelajaran: peristiwa kehidupan adalah momentum yang paling tepat untuk mengajarkan nilai-nilai atau kaidah-kaidah tertentu, dan bahwa sejumlah nilai atau kaidah tertentu hanya dapat dipahami dengan baik melalui peristiwa nyata dalam kehidupan.

Maka, berbicaralah Allah SWT tentang peperangan Uhud itu dalam 60 ayat, yang terdapat dalam surah Ali 'Imran dan dimulai dari ayat 121 hingga ayat 179. Penjelasan itu diawali dengan sebuah rekonstruksi yang menjelaskan latar belakang psikohistoris Perang Uhud (ayat 121) dan diakhiri dengan sebuah komentar penutup yang menggambarkan keseluruhan makna dan hikmah dari peristiwa tersebut (ayat 179). Allah SWT mengatakan :

"Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (Mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertaqwa, maka bagimu pahala yang besar." (Ali 'Imran: 179)

Dalam runtut penjelasan panjang itu, Allah Swt hendak mengajarkan kaum Muslimin cara yang tepat untuk menghadapi dan menyikapi kekalahan. Bahwasanya, bencana yang lebih besar dari kekalahan adalah apabila kita kehilangan kemampuan menentukan sikap dalam menghadapi kekalahan itu sendiri.

Pelajaran pertama. Untuk orang-orang kalah, mereka harus mempertahankan keseimbangan jiwa manakala kekalahan itu datang. Kekalahan, dalam berbagai medan kehidupan, sangat sering melumpuhkan, bahkan mematikan ketahanan jiwa dan semangat perlawanan seseorang atau suatu kelompok masyarakat. Itulah ancaman paling berbahaya yang menimpa orang-orang yang kalah: tiba-tiba mereka kehilangan rasa percaya diri, kehilangan semangat untuk tetap bertahan dan terus melawan, kehilangan harapan dan optimisme; tiba-tiba saja dunia ini menjadi gelap dan kabut keputusasaan menutupi seluruh langit jiwanya. Tidak ada lagi harapan bahwa esok hari akan berganti dan matahari akan terbit kembali. Itulah saat yang paling sublim dalam kehidupan individu atau kelompok, yang dalam hal ini kita harus mampu mengelola perasaan dengan cara yang sangat rumit: kita harus mengakui kekalahan secara obyektif namun tetap memiliki energi jiwa agar survive, bertahan, dan bangkit kembali.

Untuk itu, kita membutuhkan sebuah mizan: sebuah alat atau standar untuk mengukur tingkat supremasi yang sesungguhnya. Mizan yang kemudian ditetapkan Allah Swt adalah iman: bahwa kemenangan dan kekalahan bukanlah ukuran supremasi dan keunggulan; bahwa kemenangan dan kekalahan hanyalah sebuah variabel yang dengannya Allah Swt menguji kita tentang apakah kita tetap bisa beriman dalam kedua situasi itu. Maka, jangan ada kesedihan yang berlebihan dan jangan ada perasan lemah dan tidak berdaya yang akan mematikan semangat perlawanan. Allah Swt berfirman :

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Ali 'Imran: 139)

Pelajaran kedua. Untuk orang-orang kalah, mereka harus mengetahui kalau kemenangan dan kekalahan itu sesungguhnya bukanlah situasi yang permanen (tetap). Kemenangan dan kekalahan adalah piala yang dipergilirkan oleh sejarah di antara semua umat. Maka, tidak ada umat yang dapat memenangkan semua babak pertarungan, juga tidak ada umat yang ditakdirkan untuk kalah selama-lamanya.

Kemenangan dan kekalahan, sesungguhnya hanyalah sebuah variabel yang menjalankan sebuah fungsi: seleksi. Penyebabnya, andaikan kaum Muslimin menang terus, kata Ibnu Qayyim, maka akan banyak orang yang bergabung dengan kaum Muslimin meskipun mereka tidak benar-benar beriman. Ditambah lagi, andaikan kaum Muslimin kalah terus, maka misi risalah kenabian tentulah tidak akan tercapai.

Begitulah akhirnya, dalam putaran kemenangan dan kekalahan, Allah Swt menyeleksi orang-orang beriman dari orang-orang munafik. Demikian pula dalam putaran kemenangan dan kekalahan, Allah Swt menyingkap tabir pikiran dan jiwa setiap orang: maka semua yang terekam dalam pikiran dan tersimpan dalam jiwa akan tampak nyata di depan mata manakala peristiwa-peristiwa kehidupan memaksanya keluar menjadi tindakan. Allah Swt berfirman :

"Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir." (Ali 'Imran: 140-141)

Pelajaran ketiga. Untuk orang-orang kalah, kemenangan dan kekalahan sesungguhnya merupakan fenomena yang diatur oleh sebuah kaidah. Maka, setiap umat mempunyai hak untuk menang jika mereka memenuhi syarat-syarat kemenangan. Setiap umat pasti kalah jika sebab-sebab kekalahan itu ada dalam diri mereka. Kemenangan dan kekalahan bukanlah nasib yang tidak dapat dijelaskan asal-usulnya. Maka, hal penting bagi mereka yang kalah adalah menemukan penjelasan yang tepat tentang mengapa mereka kalah, bukan melukiskan kekalahan itu secara dramatis, romantis, dan melankolis. Untuk itulah, dibutuhkan keberanian untuk melihat ke dalam lebih banyak, bukan menengok keluar dan melaknat musuh.

Oleh karena itu pula dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, kesediaan dan tekad yang kuat untuk memperbaiki diri serta memenuhi syarat-syarat kemenangan. Begitulah, Allah SWT kemudian menjadikan sejarah manusia sebagai referensi yang dapat mempertemukan kita dengan syarat-syarat kemenangan atau sebab-sebab kekalahan tersebut. Allah SWT berfirman :

"(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Ali 'Imran: 138-139)





Jatuh Bangun dalam Ruang Sejarah 


Melalui kasus mikro Perang Uhud itu, Allah Swt menetapkan kaidah-kaidah makro yang kemudian mengatur jalannya sejarah manusia. Peristiwa kemenangan dan kekalahan dalam sebuah peperangan adalah sama dengan peristiwa kebangunan dan keruntuhan dalam perjalanan sejarah. Dengan demikian, apabila ada kaidah yang mengatur kemenangan dan kekalahan dalam sebuah peperangan, maka ada pula kaidah yang mengatur kebangunan dan keruntuhan setiap umat dan bangsa. Ibarat sunah-sunah yang menjelaskan mekanisme kerja alam raya, seperti itu pulalah kaidah-kaidah tersebut mengatur jalannya sejarah manusia.

Kaidah-kaidah itu adalah buah yang dapat kita petik dari pohon sejarah. Itulah sebabnya, sejarah menjadi salah satu referensi pembelajaran terpenting dalam al-Qur'an. Jika kita membuka lembaran ayat-ayat al-Qur'an, kita akan mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa sesungguhnya sejarah adalah tema pokok yang memenuhi ruang terbanyak dalam al-Qur'an. Yang ingin diajarkan al-Qur'an di balik itu adalah bahwa umat ini hanya akan bangkit mencapai kejayaannya apabila ia mengikuti kaidah-kaidah kebangunan tersebut. Sebaliknya, umat ini selamanya akan terpuruk dalam kehancuran manakala ia memenuhi semua kelayakan untuk jatuh dan runtuh.

Demikianlah, bila kemudian kita membaca sejarah Baghdad sebelum dibumihanguskan oleh tentara Tartar, di bawah pimpinan Jenghis Khan, niscaya kita akan membenarkan ungkapan Ibnul Atsir, "Orang-orang Islam ketika itu hidup seperti orang-orang jahiliyah; mimpi-mimpi mereka tidak pernah melampaui perut dan kemaluan mereka." Sama halnya apabila kita membaca bagaimana Shalahuddin al-Ayyubi berhasil membebaskan al-Aqsha yang dijajah Kaum Salib selama sembilan puluh tahun, niscaya kita akan membenarkan pendapat Dr Majid Irsan al-Kailani, yang mengatakan bahwa generasi Shalahuddin al-Ayyubi sebenarnya hanyalah hasil dari sebuah kerja dakwah dan tarbiyah (pembinaan) yang panjang, yang telah berlangsung lebih dari lima puluh tahun sebelum itu.



Inilah Pertanyaannya 



Sekarang, gaung kebangkitan Islam telah menggema di seluruh pelosok negeri, bahkan dunia: generasi baru Islam telah bangun mengumandangkan azan subuh, dan fajar shadiq telah merekah di ufuk timur.

Namun, sejarah tetap menyisakan satu pertanyaan sederhana yang pernah dilontarkan oleh Imam Syahid Hasan al-Banna, "Saya percaya, saudaraku tercinta, bahwa setiap revolusi sejarah dan setiap kebangkitan pada sebuah umat, berjalan menurut hukum ini, bahkan termasuk kebangkitan agama-agama yang dipimpin para nabi dan rasul-shalawat dan salam untuk mereka semua...." Inilah ucapan yang akan disikapi oleh pembaca dengan dua sikap: sebagian mereka mungkin telah mempelajari sejarah dan tahapan kebangkitan setiap umat sehingga mereka percaya pada kaidah ini, sementara sebagian yang lain belum mempelajari sejarah sehingga sebaiknya mereka mempelajarinya supaya mereka percaya bahwa apa yang saya katakan adalah benar.

Mereka harus percaya karena saya hanya menginginkan perbaikan dalam batas kemampuan saya. Itulah yang terjadi pada setiap kebangkitan yang sukses. Sekarang, apakah kebangkitan kita telah berjalan di atas rel hukum alam dan kaidah sosial ini?



sumber : buku "Dari Gerakan Ke Negara" (Anis Matta)

Rabu, 09 Juli 2014

Mencintai Sejantan 'Ali - Jalan Cinta Para Pejuang

kisah antara 'Ali dan Fathimah begitu banyak memberikan inspirasi

Fathimah yang merupakan putri dari Rasulullah adalah sepupu 'Ali. bahkan 'Ali dan Fathimah sudah berteman sejak kecil


'Ali memiliki rahasia di dalam hatinya yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun; ia mengagumi Fathimah


suatu hari 'Ali merasa tersentak ketika mendengar kabar bahwa Fathimah dilamar oleh seorang lelaki


seorang lelaki yang paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. lelaki yang membela islam dengan harta dan jiwa sejak awal risalah


Lelaki yang iman dan akhlaknya tak diragukan lagi; Abu Bakr Ash Shiddiq


'Ali merasa bahwa dirinya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Abu Bakr.


keutamaan Abu Bakr, kontribusi dakwah Abu Bakr hingga harta yang dimiliki Abu Bakr jauh melebihi dirinya. dan 'Ali sadar akan itu


"Inilah persaudaraan dan cinta. Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku". Gumam 'Ali


"Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan "


Beberapa waktu berlalu, dan Allah masih menumbuhkan tunas di hatinya yang sempat layu


Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan 'Ali terus menjaga semangatnya untuk memperbaiki diri


Tapi ujian itu rupanya belum berakhir. setelah Abu Bakr ditolak, kembali datang lagi seorang laki-laki lain untuk melamar fatimah


Lelaki gagah perkasa, yang sejak masuk islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka


Seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut; Dialah 'Umar ibn al khathab


'Umar yang terkenal karena kegagahan dan keberaniannya, melebihi apa yang ada pada diri 'Ali


sekali lagi 'Umar lebih layak untuk bersama fatimah dan 'Ali ridha karenanya


ketika kabar itu terkuak, 'Ali semakin bingung. lamaran 'Umar ditolak. lalu menantu seperti apakah yang dikehendaki oleh Nabi?


Kalimat yang diucapkan oleh teman-teman anshar 'Ali menyadarkan dirinya


"mengapa bukan engkau yang mencoba kawan? aku punya firasat, bahwa engkaulah yang ditunggu-tunggu oleh baginda Nabi".


'Ali mencoba meyakinkan dirinya. dan kemudian ia langsung menghadap Sang Nabi dengan tujuan untuk menikahi fatimah


ia tahu secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. yang ia miliki hanya satu baju set besi serta tepung kasar untuk makannya


tapi meminta waktu dua-tiga tahun untuk bersiap-siap itu memalukan ! meminta fatimah untuk menantinya hingga di waktu ia siap, itu kekanakan


'Ali mencoba mendengarkan nuraninya. "Engkau pemuda sejati wahai 'Ali ! Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya


Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah maha kaya


Ahlan wa sahlan ! 'Ali diterima. dengan menggadaikan baju besi miliknya,


dan dengan rumah yang disumbangkan oleh kawan-kawannya, tapi Nabi bersikeras agar ia membayar cicilannya


'Ali pun menikahi Fathimah. dengan keberanian untuk menikah sekarang, bukan janji-jani dan nanti-nanti


Inilah jalan cinta para pejuang. Disini, cinta tak pernah meminta untuk menanti


Seperti 'Ali, ia mepersilahkan atau mengambil kesempatan


Yang pertama adalah pengorbanan, dan yang kedua adalah keberanian. Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita



dari tweet @randabola

melalui buku Ust Salim A Fillah - Jalan Cinta Para Pejuang



Selasa, 08 Juli 2014

Perpustakaan Berbasis Warung Kopi Di Kota Pontianak

Kemarin (7/7/2014) saya berkesempatan hadir dalam forum diskusi yang diinisiasi oleh perpustakaan wilayah Kalbar

tema diskusi tersebut sangat menarik, yaitu "Persiapan Membangun Perpustakaan Komunitas Berbasis Warung Kopi Di Kota Pontianak"

Diskusi tersebut dipandu oleh Bang Pay Jarot (salah satu pemateri ketika saya PAMB) dan menghadirkan 3 org pembicara

berbagai komunitas kepenulisan seperti FLP, komunitas membaca, owner toko buku, pemilik warung kopi, hingga organisasi kampus diundang ke dalam diskusi tersebut

sangat positif apa yang dibahas dalam diskusi tersebut !

Pemerintah melalui Perpustakaan Wilayah Kalimantan Barat ingin menumbuhkembangkan budaya membaca di masyarakat kota Pontianak

dan target yang dituju adalah ruang publik, yaitu Warung Kopi

ternyata konsep perpustakaan berbasis warung kopi seperti ini telah berkembang di berbagai kota Indonesia

target awalnya adalah 10 warung kopi yang akan menjadi opening dari gagasan ini

dengan paparan data dan fakta mengenai warung kopi semakin mendukung gagasan ini

warung kopi dewasa ini menjadi ruang publik yang begitu heterogen

tua-muda, pria-wanita menjadikan warung kopi sebagai tempat untuk bersantai bersama teman atau komunitas

melihat kedepan, gagasan ini sangat positif. budaya membaca masyarakat yang rendah memang sangat perlu ditingkatkan

terakhir, saya sangat terkesan dengan apa yang disampaikan oleh Pak Untad selaku pembicara dari pihak perpustakaan terkait adanya kemungkinan buku yang hilang

"saya lebih menyukai buku hilang tapi dibaca oleh orang ketimbang buku yang berdebu tapi tak pernah dibaca"




Sabtu, 04 Januari 2014

Aku, Pena, Dan FLP !



tulisan ini adalah satu diantara beberapa tulisan yang saya buat ketika awal karir saya menggeluti tulis menulis. dan tulisan ini pun juga merupakan syarat untuk bisa mengikuti acara perekrutan anggota FLP yang pada saat itu bernama "PEDASMEN" (Pelatihan Dasar Menulis). kalo tidak salah PEDASMEN 3 (berarti saya angkatan ke 3)...........

Aku!!! Aku adalah seseorang yang tidak suka menulis dan membaca. Ya… Pada awalnya seperti itu. Aku sangat tidak suka dengan menulis dan membaca. Apabila ada pelajaran menulis ataupun membaca akupun cepat merasa bosan. Aku lebih suka dengan pelajaran yang menggunakan pikiran, seperti Matematika.

AWAL PERUBAHAN

Namun, jalan hidupku berubah sejak masuk SMA. Aku memiliki banyak teman yang mempunyai hobi gemar membaca. Dimulai dari membaca komik, novel, hingga buku – buku motivasi. Karena mereka semua itulah akhirnya aku senang membaca. Aku senang membaca buku apa saja. Baik itu buku motivasi, komik, cerpen, novel, hingga buku islami. Diantara semua itu, buku – buku motivasi merupakan bacaan kesukaanku. Setiap kali aku membaca buku – buku motivasi, keinginanku untuk menjadi pribadi yang baik semakin kuat. Aku mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Alhamdulillah, buku – buku itu berhasil merubah kepribadianku. Aku banyak merasakan perubahan di dalam diriku ini. Mulai dari cara belajar, sifat – sifatku, hingga akhlak ku pun menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya. Aku merasa bersyukur bisa memiliki teman seperti mereka. Seandainya saja aku tidak bertemu dengan mereka, mungkin aku masih benci dengan yang namanya membaca.

Bukan hanya dalam hal membaca saja aku mengalami perubahan, ternyata menulis pun juga begitu. Berawal dari membaca, membaca, dan membaca. Aku pun memiliki keinginan untuk menulis. Aku kagum dengan penulis – penulis yang bisa menerbitkan tulisannya dalam bentuk buku ataupun semacamnya. Menurutku, tulisan bukan hanya dapat dibaca oleh orang yang membacanya, namun tulisan juga dapat mempengaruhi seorang pembaca tersebut. Aku contohnya. Sejak membaca tulisan – tulisan yang memotivasi diriku untuk menulis, aku pun memiliki impian untuk menjadi seorang penulis.

TULISAN PERTAMA

Aku mulai memberanikan diri untuk menulis. Namun setiap kali aku ingin memulai menulis, selalu saja ada halangan yang menghadang. Hingga akhirnya aku berhasil membuat tulisan ku yang pertama. Tulisan tersebut dalam bentuk cerpen. Awal mulanya adalah ketika guru Bahasa Indonesia ku disekolah memberi tugas untuk membuat cerpen. Aku sangat senang dengan tugas yang diberikan oleh guruku itu. Namun, aku mengalami kesulitan dalam proses pembuatan tugas tersebut. Aku beberapa kali menggonta – ganti cerita dikarenakan tersendatnya cerita yang aku buat.

Deadline pengumpulan tugas adalah besok. Sedangkan cerpen ku belum selesai. Jangankan selesai, satu baris saja pun belum. Hingga pada akhirnya aku mendapatkan sebuah ide pada jam 10 malam.  Dengan segera, aku pun langsung menuliskan ide tersebut. Alhamdulillah, cerpen dengan judul “Hidup Berawal dari Mimpi” selesai dibuat. Ternyata cerpen pertama ku itu mendapat reaksi positif dari guru dan teman – temanku. Ketika aku selesai membacakan resensi dari cerpen yang aku buat di depan kelas, aku mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari teman – temanku. Sungguh, aku sangat senang. Mengapa ? Karena itu adalah tulisan pertama yang aku buat, dan aku mendapat sambutan positif dari apa yang aku tulis tersebut.

FLP!!!

                Suatu hari ketika aku membuka facebook, aku melihat ada sebuah pamflet dengan judul ‘Yuk Gabung Flp’. Segera aku baca isi pamflet tersebut. Wow! Amazing! Ternyata ada juga acara seperti ini. Acara seperti ini lah yang aku nantikan selama ini. Aku baca dari waktu, tempat, hingga persyaratannya. Tidak ada yang menjadi kendala. Aku harus ikut acara ini. Aku berharap dengan mengikuti acara ini, aku bisa memperoleh banyak ilmu dalam hal menulis.

Aku telah lama mengenal Flp. Sudah banyak buku – buku dari Flp yang telah aku baca. Hampir semua buku – buku dari Flp sangat ku sukai. Buku – buku tersebut terkadang memberikan motivasi terhadap diriku. Salah satu buku terbitan Lingkar Pena yang pernah aku baca adalah ‘Jodoh Cinta Update’. Buku tersebut membahas mengenai bagaimana cara kita mempersiapkan diri dalam menjemput jodoh. Jujur, kisah – kisah yang ada di dalam buku tersebut penuh akan makna. Kisah tersebut dapat dijadikan pembelajaran oleh pembacanya, termasuk aku. Masih banyak buku lainnya yang sangat aku sukai dari Lingar Pena. Seperti ‘Muhasabah Cinta Seorang Istri’. Walaupun secara garis besar buku ini diterbitkan untuk wanita – wanita, namun aku merasa mendapat manfaat yang begitu besar setelah membaca buku tersebut. Aku bisa merasakan bagaimana perasaan seorang istri ketika menghadapi berbagai persoalan rumah tangga. Aku pun juga bisa merasakan betapa pentingnya menjaga keharmonisan dalam sebuah rumah tangga. Aku mengucapkan terima kasih kepada Flp yang telah menerbitkan buku – buku semacam ini. Karena buku – buku seperti inilah yang harus dibaca oleh para remaja yang ingin mempersiapkan diri dalam menghadapi pernikahan.

Aku pun juga berharap suatu saat nanti aku bisa bergabung dalam FLP. Aku ingin membuat buku yang bisa menjadi motivasi bagi setiap pembacanya, dan tentunya setiap pembaca bisa merasakan kepuasan terhadap apa yang ia baca.

Jika kau ingin mengenal dunia, maka Membacalah!
Jika kau ingin dikenal dunia, maka Menulislah! 
(ucap Ust Felix Siauw ketika mengunjungi kota khatulistiwa) 



Selasa, 24 Desember 2013

Inilah Sejarah Natal - Kultwit Ust Salim A Fillah

Kultwit ustadz @salimafillah tentang Natal

1. Natal ini, terkenang ujaran Allahu yarham KH Abdullah Wasi’an (kristolog Jogja -red); “Saudara-saudaraku Nashara terkasih, beda antara kita tidaklah banyak.”

2. Wasi’an: “Kalian mengimani Musa, juga ‘Isa. Kamipun sama. Tambahkanlah satu nama; Muhammad. Maka sungguh kita tiada beda.”

3. Wasi’an: “Kalian imani Taurat, Zabur, & Injil. Kamipun demikian. Tambahkan Al Quran, maka sungguh kita satu tak terpisahkan.”

4. Sungguh adanya kerahiban jadikan kalian lembut hati & dekat pada kami; sementara Yahudi & musyrik musuh terkeras kita. ( QS 5: 82 ).

5. Tapi mungkin memang sudah tabiat ‘aqidah, satu sama lain tak rela jika kita tak serupa dalam agama secara sepenuhnya. ( QS 2: 120 ).

6. Bagaimanapun, selama kita tak saling memerangi & usir-mengusir tersebab iman, tak terlarang kita saling berkebajikan. ( QS 60: 8 ) .

7. Maka inilah kita mencari titik singgung iman demi kebersamaan; itulah pengakuan ke-Ilahi-an Allah tanpa persekutuan. ( QS 3: 64 ).

8. Tetapi kami insyafi sepenuhnya, yakin di dada tak bisa dipaksakan. Kami hormati segala nan tak bisa dipertemukan. ( QS 109: 6 ).

9. Dalam keberbedaan itu, izinkan kami tetap mencintai ‘Isa & Maryam, meski kami tak bisa memohon kalian mentakjubi Muhammad.

10. Izinkan jua kami, membaca dengan berkaca-kaca betapa indah Surat dalam Quran yang berjudul Maryam. Gadis tersuci sepanjang zaman.

11. Najasyi Habasyah & Uskup-uskupnya, juga para Patriarkh Najran menitikkan airmata, dibacakan Surat Maryam. Berkenankah kalian jua?

12. Ini sungguh bukti bahwa Allah, Nabi, & Al Quran kami mengajarkan pemuliaan nan mengharukan pada Maryam & ‘Isa yang tiada duanya.

13. Termuliakanlah ‘Isa dengan penciptaan & kelahiran nan ajaib yang bagi kami begitu agung sebagaimana penciptaan Adam. ( QS 3: 59 ).

14. Termulialah ‘Isa nan bicara dalam buaian. Salam sejahtera baginya di saat lahir, kelak diwafatkan, & nantinya dibangkitkan. ( QS 19: 33 )

15. Saudara Nasrani terkasih; kami mencintai ‘Isa, Nabi & RasulNya. Ruh & kalimatNya, yang ditiup-tumbuhkan dalam rahim suci Maryam.

16. #Natal ini, kalian rayakan kelahiran ‘Isa yang agung; tapi bagi kami tanggal 25 Desembernya agak membuat terkerut dahi bertanya-tanya.

17. Sebab Maryam nan sungguh berat ujiannya itu bersalin di saat kurma masak penuh tandannya. Kemungkinan itu Maret, bukan Desember.

18. Maafkan jika menyinggung hati, tapi sungguh telah ditulis para Sejarawan, 25 Des itu hari kelahiran Janus & Mitra, Dewa Matahari.

19. Sungguhpun ingin rasanya syukuri lahirnya Rasul Ulul ‘Azmi nan teguh hati; ‘Isa, agak tak nyaman hati kami dengan hari pagan ini.

20. Sayangnya, hampir seluruh gereja sudah menyepakatinya, sampai seorang Sejarawan memelesetkan ‘Son of God’ sebagai ‘Sun of God’.

21. Itulah awal-awal yang membuat kami berat hati untuk ucapkan Salam Natal. Ini harinya Janus & Mitra. Bukan harinya ‘Isa, kawan terkasih.

22. Tentu tradisi ribuan tahun dengan salju & cemara, pohon sesembahan pagan Eropa itu tak bisa kami paksa untuk diubahkan seenaknya.

23. Tinggal kini, dalam hasrat hati tuk membalas penghormatan yang kalian berikan di ‘Idul Fitri & Adhha, kami kan simak para ‘ulama.

24. Sungguh, agama ini memerintahkan untuk membalas tiap pemuliaan dengan penghargaan yang lebih baik, minimal senilainya. ( QS 4: 86 )

25. Yang disepakati para ‘ulama atas keharamannya adalah keterlibatan dalam segala yang bernilai ritual & ibadah. Pun jua Fatwa MUI.

26. Jika keterlibatan dalam kegiatan Natal nan bersifat ibadah & ritual disepakati haramnya, para ‘ulama ikhtilaf pada soal ucapan selamat.

27. Yang membolehi selamat Natal al Dr. Musthafa Az Zarqa, Dr. Yusuf Al Qaradlawy; menyebut tahniah tak terkait dengan ridha atas ‘aqidah.

28. Tahniah Natal, kata keduanya; bisa menjadi da’wah sebagaimana Ibrahim bicara tentang tertuhannya bintang, bulan, mentari. ( QS 6: 77-83 )

29. Oh iya, QS 6: 77-83 TIDAK berkisah tentang ‘Ibrahim Mencari Tuhan’, tapi ‘Ibrahim Berda’wah’, demikian ditegaskan Al Qurthuby.

30. Maka tahni-ah Natal yang diikuti komunikasi intensif sebagaimana dilakukan Ibrahim pada penyembah bintang, bulan, mentari adalah indah.

31. Dr. Abdussattar memberi catatan kemubahan tahni-ah Natal ini dengan kehati-hatian memilih diksi. Doa menuju hidayah lebih dianjurkan.

32. Adapun Al ‘Utsaimin, Lajnah Fatwa KSA (Kerajaan Saudi Arabia), dll cenderung mengharamkan tahni-ah Natal tersebab hal itu sama dengan meridhai ‘aqidah keliru.

33. Jadi ikhtilaf ‘Ulama terkait tahni-ah Natal ini ada di ranah pemaknaan kalimat ucapan tersebut. Masing-masingnya lalu mengajukan dalil.

34. Ulamapun berfatwa sesuai konteks di seputarnya, tentu ada perbedaan lingkungan sosial nan melatarbelakangi fatwa nan tak sama.

35. Lajnah Fatwa KSA & Al Utsaimin menjawab di negeri yang nyaris tiada Nasrani. Al Qaradlawy&Az Zarqa berfatwa tuk masyarakat majemuk.

36. Bagaimana sikap atas beda fatwa ucapan Natal? Kata Asy-Syafi’i, Al Khuruj minal Ikhtilaafi Mustahabb: keluar dari selisih itu disukai.

37. Dengan jernih hati & mengukur kapasitas diri, kita bisa mempertimbangkan kedua-duanya. Ada keadaan-keadaan yang harus dicermati.

38. Ikhtilaf ahli ilmu insyaaLlah menjadi kemudahan bagi kita untuk beramal yang tak sekedar benar, melainkan juga tepat & cerdas.

39. Akan ada yang menghajatkan fatwa Al Qaradlawy & Az Zarqa, al; di wilayah muslim minoritas, keluarga majemuk nan erat hubungan dll .

40. Akan ada juga yang hajatkan fatwa Al ‘Utsaimin pada posisi memelihara ‘izzah agama. Misalnya Raja KSA sebagai Khadimul Haramain.

41. Kata Abu Hanifah; yang terpenting BUKAN mengamalkan pendapat kami atau tidak. Melainkan mengetahui bagaimana kami menetapkannya.

42. Dan adalah dosa; mengatasnamakan ‘ulama tuk haramkan sesuatu; padahal mereka tidak; cermati misalnya Fatwa MUI ini: http://media.isnet.org/antar/etc/NatalMUI1981.html

43. Mengamalkan atau tak mengamalkan; jauh lebih ringan dari soal menghalalkan & mengharamkan; karena ia adalah haq Pembuat Syari’at.

44. Sebab itu; para ‘Ulama mengistilahkan beda pendapat Fiqh dalam dimensi SHAWAB (tepat) & KHATHA’ (keliru), bukannya HAQ & BATHIL.

45. Maka dengan ilmu memadai, mari beramal terbaik bagi iman kita pada Allah, bagi misi kita sebagai ummat terbaik di tengah manusia.

46. Demikian bincang Natal. Semoga tak kecewa karena jawabnya tak satu. Sebab Salim, bodoh untuk lancang mentarjih ikhtilaf Ulama.

Kamis, 05 Desember 2013

Sultan Mehmed II (Muhammad Al-Fatih)

Sudah lama mendengar dan mengetahui tentang kisah heroik ini. Namun ketika saya membaca lembar demi lembar kisah Sultan Mehmed II (yg dijuluki dengan Al Fatih) ini, ternyata banyak yang belum saya ketahui sebelumnya. Buku setebal 318 ini memuat cerita yang begitu runtun. Setiap Scene ceritanya membuat kita bak berada di tengah medan pertempuran... Dan saya akui bahwasanya saat ini saya sedang jatuh cinta dengan buku dan kisah heroik ini | Kisah Sultan Mehmed II (anaknya Sultan Murad II) bersama pasukannya dalam menaklukan kota Konstatinopel | ‪#‎Recommended‬


Sabtu, 16 November 2013

Pesona Jiwa Raga

Perjalanan Ke Puncak, Bogor ditemani oleh 3 Buku. Salah Satunya Buku Pak Anis Matta yang berjudul "Serial Cinta". Jam telah menunjukkan pukul 00.22 Wib, dan rasa kantuk juga belum melanda. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk membaca buku Serial Cinta agar rasa kantuk itu muncul. Satu Topik mengenai "Pesona Jiwa Raga" membuat malam yang sunyi menjadi "seru". Untaian kata yang hadir sangat begitu menginspirasi saya. Dinginnya suhu Puncak tak membuat semangat membaca menjadi lemah. justru menambah cita rasa dalam membaca. berikut kutipan sub bab mengenai "Pesona Jiwa Raga" 

Pada mulanya adalah fisik. Seterusnya adalah budi. Raga menantikan pandanganmu. Jiwa membangun simpatimu. Badan mengeluarkan gelombang magnetiknya. Jiwa meniupkan kebajikannya.

Begitulah cinta tersurat di langit kebenaran. Bahwa karena cinta jiwa harus selalu berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona itu: jiwa dan raga.

Tapi selalu ada bias disini. Ketika ketertarikan fisik disebut cinta tapi kemudian kandas ditengah jalan. Atau ketika cinta tulus pada kebajikan jiwa tak tumbuh berkembang sampai waktu yang lama. Bias dalam jiwa ini terjadi karena ia selalu merupakan senyawa spritualitas dan libido. Kebajikan jiwa merupakan udara yang memberi kita nafas kehidupan yang panjang. Tapi pesona fisik adalah sumbu yang senantiasa menyalakan hasrat asmara.

Biasnya adalah ketidakjujuran yang selalu mendorong kita memenangkan salah satunya: jiwa dan raga. Jangan pernah pakai “atau” disini. Pakailah “dan”: kata sambung yang menghubungkan dua pesona itu. Sebab kita diciptakan dengan fitrah yang menyenangi keindahan fisik. Tapi juga dengan fakta bahwa daya tahan pesona fisik kita ternyata sangat sementara. Lalu apakah yang akan dilakukan sepasang pecinta jika mereka berumur 70 tahun? Bicara. Hanya itu. Dan dua tubuh yang tidur berdampingan di atas ranjang yang sama hanya bisa saling memunggungi. Tanpa selera. Sebab tinggal bicara saja yang bisa mereka lakukan. Begitulah pesona jiwa perlahan menyeruak di antara lapisan-lapisan gelombang magnetik fisik: lalu menyatakan fakta yang tidak terbantahkan bahwa apa yang membuat dua manusia bisa tetap membangun sebuah jangka panjang sesungguhnya adalah kebijakan jiwa mereka bersama.

Seperempat abad lamanya Rasulullah saw hidup bersama Khadijah. Perempuan agung yang pernah mendapatkan titipan salam dari Allah lewat malaikat Jibril ini menyimpan keagungannya begitu apik pada gabungan yang sempurna antara pesona jiwa dan raganya. Dua kali menjanda dengan tiga anak sama sekali tidak mengurangi keindahan fisiknya. Tapi apa yang menarik dari kehidupannya mungkin bukan ketika akhirnya pemuda terhormat, Muhammad bin Abdullah, menerima uluran cintanya. Yang lebih menarik dari itu semua adalah fakta bahwa Rasulullah saw sama sekali tidak pernah berpikir memadu Khadijah dengan perempuan lain. Bahkan ketika Khadijah wafat, Rasulullah saw hampir memutuskan untuk tidak akan menikah lagi.

Bukan cuma itu. Bahkan ketika akhirnya menikah setelah wafatnya Khadijah, dengan janda dan gadis, beliau tetap berkeyakinan bahwa Khadijah tetap tidak tergantikan. “Allah tetap tidak menggantikan Khadijah dengan seseorang yang lebih baik darinya,“ kata Rasulullah saw.

Terlalu agung mungkin. Tapi memang begitu ia ditakdirkan: menjadi cahaya keagungan yang menerangi jalan para pecinta sepanjang hidup. Pengalaman di sekitar kita barangkali justru selalu tidak sempurna. Karena biasanya selalu hanya ada “atau” bukan “dan” dalam pesona kita. Atau bahkan tidak ada “dan” apalagi “atau”. Ketika pesona terbelah seperti itu, cinta pasti berada di persimpangan jalan, selamanya diterpa cobaan, seperti virus yang menggerogoti tubuh kita. Dalam keadaan begitu penderitaan kadang tampak seperti buaya yang menanti mangsa dalam diam.

Anis Matta

Puncak, Bogor, 16 November 2013 | @RandaBola