Tampilkan postingan dengan label Bola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bola. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Mei 2015

Tiga Kesalahan Guardiola Ketika Melawan Barcelona

Guardiola
Bayern Munich mau tidak mau harus bermain habis-habisan pada pertandingan leg kedua semifinal Liga Champions mendatang menghadapi Barcelona. Pasalnya, mereka dihantui defisit tiga gol akibat kalah 0-3 pada pertandingan leg pertama di Stadion Camp Nou, kandang Barcelona. Dua gol Lionel Messi dan satu gol Neymar membuat Pep Guardiola tertunduk saat keluar dari stadion tempatnya yang dulu merupakan markas kebanggaannya itu.
Bayern sebenarnya tidak kalah sejauh itu dari Barcelona. Bayern unggul dalam hal penguasaan bola dan jumlah umpan sukses. Namun, dalam pertandingan tersebut Pep menerapkan strategi yang tidak biasa dan memberikan ruang bagi Barcelona untuk membuat peluang. Pilihan strategi tersebut kemudian menjadi blunder karena Bayern takluk tiga gol tanpa balas dari Barcelona.
Permainan Man to Man Marking
Barcelona dan Bayern adalah dua kesebelasan yang sama-sama mengandalkan penguasaan bola. Keduanya tidak akan membiarkan lawan mendapatkan kesempatan berlama-lama dengan bola. Pressing ketat dilakukan untuk membuat lawan tidak tenang sehingga cepat melepas bola. Ini merupakan cara yang hampir selalu dilakukan kedua tim untuk segera merebut penguasaan bola.
Namun, siapa sangka Pep justru memilih memainkan pola bertahan man to man marking untuk membuat penguasaan bola Barcelona berantakan. Sebanyak 10 pemain Bayern diinstruksikan untuk langsung menempel semua pemain Barcelona saat mereka menguasai bola.
man
Cara ini memang sempat membuat Barcelona kesulitan membangun serangan. Tidak ada satu pun pemain Barcelona yang bebas tanpa pengawalan, membuat mereka tidak bisa menguasai bola cukup lama untuk mengatur serangan. Hasilnya, Barcelona pun dipaksa untuk bermain bola-bola cepat yang langsung menuju area pertahanan Bayern Munich.
Namun, Pep agaknya lupa bahwa penguasaan bola Barcelona tidak cuma dimainkan 10 pemain. Ada kiper yang merupakan pemain kesebelasan yang turut andil dalam penguasaan bola Barcelona. Sementara itu, Bayern tidak mungkin memainkan man to man marking dengan 11 orang.
Hal ini membuat pola pertahanan man to man marking Bayern tidak dapat bekerja ketika bola ada di kaki Ter Stegen. Tidak ada pemain Bayern yang bisa mendekati Stegen. Karena jika salah satu pemain Bayern datang melakukan pressing, hal itu berarti ada satu pemain barcelona yang dilepas pengawalannya.
Dengan begitu, Stegen pun akhirnya mampu menahan bola untuk lebih mengatur tempo permainan Barcelona di saat teman-teman lainnya tidak memiliki kesempatan untuk itu. Dengan adanya waktu bagi Stegen untuk menahan laju bola, membuatnya mampu dengan leluasa mencari pemain Barcelona yang berada di posisi paling tepat untuk diberikan operan.
Ditambah lagi, untuk sebuah kesebelasan yang memainkan pola serangan yang begitu cair seperti Barcelona, menembus pertahanan yang memainkan man to man marking tentu tidak sulit. Pemain Barcelona diberikan keleluasaan untuk bebas bergerak ke manapun mereka mau untuk mencari ruang. Dengan begitu, pemain bertahanan Bayern yang juga harus mengikuti pergerakan pemain Barca mau tidak mau harus keluar dari posisinya.
Hal ini tentu menjadi masalah tersendiri karena akan tercipta ruang-ruang kosong di area pertahanan Bayern sendiri. Seperti yang terjadi saat Suarez berhasil lolos satu lawan satu melawan Neuer di awal-awal babak pertama.
Garis Pertahanan Tinggi Bayern Munich
Setelah gagal memainkan pola pertahanan man to man marking, Pep kemudian mengubah pola permainan Bayern menjadi zonal marking. Pep mengubah formasi timnya menjadi 4-4-2 berlian. Keempat gelandang berdiri rapat di tengah dan tidak memberikan ruang bagi gelandang Barcelona untuk bergerak di area tengah.
Namun dalam kondisi ini Bayern tidak melepaskan pressing tingginya untuk tetap ingin cepat merebut ball possession. Dua pemain depan pun bergerak maju untuk menekan garis pertahanan Barcelona.
Dengan kondisi ini, Bayern mau tidak mau harus menaikkan garis pertahanannya. Pasalnya, dua penyerang mereka berada jauh di depan, sedangkan empat gelandang Bayern berdiri dalam jarak yang berdekatan. Dalam kondisi ini, luas lapangan yang bisa di-cover oleh pemain Bayern pun tidaklah luas. Salah satu cara untuk mempersempit area permainan adalah dengan menaikkan garis pertahanan.
Namun ini pun menimbulkan masalah bagi pertahanan The Bavarians. Pasalnya, garis pertahanan tinggi tentu sangat rawan untuk menjadi target umpan terobosan Barcelona. Apalagi lini depan Barcelona dihuni Neymar dan Luis Suarez yang sama-sama memiliki kecepatan.
e
Barca pun beberapa kali berhasil melepaskan umpan terobosan ke jantung pertahanan Bayern Munich. Beruntung, Bayern memiliki Manuel Neuer di bawah mistar yang dapat berperan sebagaisweeper keeper untuk memotong umpan terobosan Barcelona.
Serangan Tanpa Dukungan Lini Kedua
Meski menekan saat bertahan, Bayern justru bermain amat hati-hati kala menyerang. Bayern seperti hanya mempercayakan serangan mereka kepada duet Muller dan Lewandowski yang sesekali dibantu oleh Schweinsteiger.
Alonso dan Lahm seperti tidak diberikan izin untuk maju menyerang karena sangat jarang dua pemain ini meninggalkan posnya. Sedangkan Alcantara selalu datang terlambat ketika tiga pemain di depan sudah dalam kondisi terkepung pemain Barcelona.
Bantuan yang hadir dari lini kedua Bayern Munich datang terlalu lama. Padahal seluruh pemain bertahan Barcelona sudah berada di posisinya. Pada gambar berikut terlihat bagaimana Bayern hanya menyerang dengan menggunakan tiga pemain padahal sudah ada enam pemain bertahan Barcelona yang siap menghadang.
fff
Hal inilah yang kemudian membuat Bayern Munich tidak bisa melepaskan satu pun tendangan ke gawang meski lebih banyak memegang penguasaan bola. Serangan mereka pun hanya bisa sampai ke sepertiga akhir lapangan tanpa mampu masuk ke kotak penalti Barcelona.

DITULIS OLEH 


Sumber : http://panditfootball.com/analisa-pertandingan/tiga-blunder-pep-guardiola-di-camp-nou/

Peran Inverted Winger Dalam Sepakbola Modern

Eden Hazard - Chelsea Inverted Winger 
Inverted winger adalah pemain sayap yang menempati sisi lapangan yang berlawanan dengan kekuatan kaki terbaiknya. Seorang pemain sayap berkaki kidal ditempatkan di sisi kanan, sementara pemain berkaki kanan di taruh di sisi kiri — itulah inverted winger.

Dengan pertukaran posisi macam itu, seorang inverted winger bisa mengkreasi peluang bagi dirinya sendirinya dengan cara membawa bola ke dalam, lalu melakukan percobaan mencetak gol dengan kaki terkuatnya. Misal: seorang kidal di sisi kanan, bisa membawa bola ke tengah atau ke depan kotak penalti, dan bisa langsung melakukan shot dengan kaki kirinya. Dia tak harus memindahkan bola ke kaki terkuatnya lebih dulu karena bola sudah ada di kaki terkuatnya.
Seperti aksi Arjen Robben, si kidal dari Bayern Munchen. Robben lebih banyak beroperasi di sisi kanan lapangan, tanpa harus menghilangkan karakternya sebagai pemain kidal. Atau seperti Robet Pires ketika di Arsenal. Kini peran itu pun terkadang bisa kita lihat di diri Cristiano Ronaldo.
Di sisi lawan tanding, taktik ini sungguh tidak mengenakkan. Umumnya para pemain bertahan, seperti fullback di sisi kiri atau kanan ditempati oleh mereka yang memiliki kekuatan kaki yang sama dengan sisi lapangan. Gampangnya, bek kanan adalah seorang dengan kaki kanan yang kuat dan sebaliknya.
Ketika melakukan gerakan memotong ke dalam, seorang pemain sayap akan memaksa fullback untuk merebut bola dengan kekuatan kaki lemahnya, dengan mayoritas seorang fullback menempati sisi di mana pada kekuatan kaki terbaiknya. Jika ingin mengambil bola dengan kaki terbaik, fullback harus paling tidak memutar badan untuk memindahkan kaki terkuatnya mendekati lawan.
Dengan memutar badan, maka bisa ditebak ia akan kalah beberapa langkah dari pemain sayap yang sudah pasti berlari kencang mendekati kotak penalti.
Ini berbeda dengan seorang traditional winger yang ditempatkan di sisi yang sesuai dengan kaki terkuatnya: pemain kidal di sisi kiri, pemain dominan kaki kanan di sisi kanan. Sayap dengan bergaya tradisional ini populer pada pola klasik tiga baris sejajar 4-4-2. Kedua sayap bekerja menyisir lapangan dan lantas mengirim umpan silang ke dalam kotak penalti. Fungsi mereka terutama untuk memberi peluang bagi pemain lain khususnya striker, dan bukan mengkreasi peluang untuk dirinya sendiri. Fullback hanya tinggal menjaganya agar terus melebar dan tidak memberi kesempatan melakukan teror melalui umpan silang.
Produktivitas pemain inverted winger hanya salah satu kelebihan saja. Dengan menggunakan inverted winger, sebuah tim punya lebih banyak variasi dalam upaya membongkar pertahanan lawan. Saat seorang inverted winger bergerak ke tengah pertahanan lawan dan berhasil memancing fullbackyang menjaganya untuk ikut bergerak ke dalam, maka ada lubang di sisi pertahanan yang bisa dimanfaatkan pemain lain. Pertama, seorang inverted winger bisa mencetak gol tidak hanya dengan dribbling yang diakhiri dengan shot, tapi bisa melakukannya dengan pergerakan tanpa bola ke jantung pertahanan lebih dulu.
Inverted winger meninggalkan posisinya di tepi lapangan. Di titik ini, setidaknya ada dua kemiripan antara seorang inverted winger dengan seorang false nine: pertama, sama-sama banyak bergerak di luar posisi naturalnya. kedua, memancing pemain lawan bergerak meninggalkan posisinya. Jika inverted winger bisa menarik fullback ke luar dari posisinya, seorang false nine untuk menarik bek tengah yang menjaganya.
Seringkali kedua peran di atas itu juga saling menentukan satu sama lain. Ketika striker yang berperan sebagai false nine berhasil menarik perhatian center back untuk mengikuti pergerakannya. Misal, terpancing naik mengikuti striker yang turun ke bawah, maka ada celah yang bisa dieksploitasi oleh pemain sayap yang membawa bola ke jantung pertahanan.
Jika sudah ada ruang kosong di jantung pertahanan, seorang inverted winger yang masuk dengan membawa bola bisa langsung melakukan shot atau terus melakukan solo-run ke dalam kotak penalti. Jika inverted winger tidak bisa melakukan dua hal itu karena ditekan oleh fullback yang mengikuti pergerakannya, maka dia bisa melakukan umpan satu dua dengan striker false-nine.
Itulah sebabnya kebanyakan tim yang menggunakan sepasang inverted winger sekaligus umumnya hanya menggunakan atau memasang seorang striker di depan, baik dalam formasi 4-2-3-1, 4-5-1 atau bahkan 4-6-0 dengan striker yang berperan sebagai false-nine seperti Francesco Totti di era Luciano Spaletti.
Seorang striker yang statis berada di kotak penalti menunggu umpan silang dari sayap tentu tidak cocok dengan gaya bermain yang menekankan serangan dari sayap mengandalkan sepasang inverted winger. Dibutuhkan striker yang lebih mampu bergerak, untuk membuka ruang bagi pemain sayap yang ingin masuk ke dalam. Bahkan jika dibutuhkan, seorang striker dapat bertukar posisi dengan bermain melebar.
Komposisinya akan lebih mematikan jika tim tersebut juga punya gelandang serang yang punya akselerasi bagus sehingga bisa bergantian dengan stiker untuk mengecoh konsentrasi bek lawan. Bayangkan apa yang terjadi jika sebuah tim punya 4 pemain di lini serang dengan tipikal seperti ini: sepasang inverted winger, 1 striker yang fasih bermain sebagai false-nine dan gelandang serang yang punya akselerasi bagus untuk bertukar posisi dengan striker.
Bola silang dari inverted winger tidak menghambat momentum kecepatan bola terlalu besar, karena penerima umpan hanya tinggal membelokan atau bahkan mempercepat laju bola dengan sundulan maupun sepakan kaki. Ini diakibatkan bola yang dikirim seorang inverted winger cenderung melengkung ke dalam ke arah gawang. Sementara seorang winger tradisional, bola silang yang dikirimnya biasanya melengkung ke luar menjauhi gawang.
Lalu muncul pertanyaan, bagaimana cara menghentikan inverted winger? Setidaknya ada dua cara yang paling kentara: mencegahnya bergerak memotong ke dalam, atau tidak memberi kesempatan untuk melakukan aksi selanjutnya setelah melakukan cutting-inside.
Untuk opsi pertama tentu dengan memasang fullback tangguh yang mampu memenangi duel one by one. Atau cara ekstrim lain dengan melawan memakaiinverted fullback, misalnya dengan memasang seorang bek kidal di sisi kanan dan sebaliknya. Misal: Glenn Johnson yang dominan kaki kanan di era Kenny Dalglish malah ditempatkan sebagai fullback kiri. Namun hal ini akan mengurangi supportdalam menyerang dan cenderung membuat tim menjadi bermain bertahan. Lagi pula, seoranginverted fullback umumnya bukan dipasang untuk mengantisipasi inverted-winger, tapi malah untuk berperan seperti inverted-winger saat menyerang.
Cara lain yang lebih memungkinkan adalah memasang double pivot yang beroperasi di depan back-four dengan membagi beban tanggung jawab antara kedua pivot. Satu pemain menjaga pemain sayap lawan yang melakukan cutting-inside, dan pivot lain menjaga atau menutup ruang gerak pemain lawan yang lain.
Ditulis oleh : 
Sumber : http://panditfootball.com/taktik/inverted-winger-sebagai-penentu-di-permainan/

Kamis, 07 Mei 2015

Say Tidak Membenci Chelsea



Kemarin malam, saya mendapati pesan masuk di BBM dari seorang teman yang notabene merupakan penggemar Chelsea. Pesan yang dikirimnya berbunyi “Boring - Boring Chelsea”. Uniknya, pesan itu ia kirim tepat setelah wasit meniupkan peluit panjang pertandingan yang menandakan Chelsea keluar sebagai juara BPL 2014/2015. Tanpa menunggu lama waktu, saya segera membalas pesan tersebut dengan kalimat “memang boring”.
Setelahnya kami berbalas pesan yang hingga pada akhirnya ia mengatakan “Haters Gonna Hate”.
Saya tersenyum dan tidak membalas pesan tersebut. Ditulisan ini lah saya mencoba untuk menjawab pernyataan yang ia tuturkan tadi malam.
Benarkah saya Hatersnya Chelsea?
Maka dengan senyuman, saya akan menjawab bukan. Saya tidak membenci Chelsea. Hanya saja saya tidak senang jika menyaksikan sebuah tim yang bermain dengan strategi defensive. Saya paham itu memang merupakan bagian dari taktik. Tapi itu sungguh membosankan untuk ditonton !
Dalam konteks ini setiap orang mempunyai pendapatnya masing-masing. Tidak salah jika ada orang yang menyukai strategi yang dipakai oleh Chelsea tersebut. Namun secara pribadi, saya adalah penikmat sepakbola atraktif. Sehingga saya akan menjadi tokoh antagonis terhadap tim yang bermain ala “parkir bus”.

Apakah Chelsea bermain seperti itu ditiap pertandingan? 
Tentu saja tidak. Pada musim ini khususnya di Premier League, saya cukup sering menyaksikan Chelsea bermain dan saya rasa Chelsea hanya di beberapa pertandingan saja bermain seperti itu (bermain “parkir bus”). Selebihnya mereka mempertontonkan permainan yang atraktif nan menyerang. Dan saya menikmati itu. Dengan Fabregas sebagai jembatan antara lini belakang dan lini depan, kemudian Hazard dan Oscar sebagai kreator serangan, serta Diego Costa sebagai finisher yang mematikan, sungguh permainan menyerang Chelsea begitu indah untuk dinikmati. Juga jangan lupakan peran Ivanovic yang seringkali melakukan tusukan dari kanan, ataupun Terry dan Cahill yang pandai mencari posisi ketika Set Pieces dilakukan.
Jika melihat secara komposisi pemain, maka menurut saya Chelsea adalah tim yang paling komplit di premier league musim ini. Hal tersebut bisa kita lihat pada statistik baik dalam urusan mencetak gol ataupun kebobolan. Lini belakang dan lini depan Chelsea sama - sama kuat !
Hanya saja faktor kepragmatisan dari seorang Mourinho yang terkadang membuat Chelsea menjadi terlihat “boring”. Saya tidak menyalahkan strategi Mourinho yang pragmatis. Bahkan menurut saya, Mourinho adalah salah satu pelatih hebat yang memiliki mental dan strategi yang mumpuni. Namun kembali kepada statement awal, saya adalah penikmat sepakbola atraktif. Sehingga saya akan berperan antagonis ketika melihat sebuah tim menampilkan sebuah permainan ala “parkir bus”.
Karena filosofi saya (termasuk filosofi ketika bermain PES), pertahanan terbaik adalah menyerang dan terus menyerang.
Sekali lagi, saya bukan Hatersnya Chelsea. Tetapi bagi tim manapun yang bermain pragmatis defensive, saya akan mengkritiknya. Terlebih jika tim itu adalah tim besar dengan kapasitas pemain diatas rata-rata.

Salam sepakbola atraktif nan menyerang !

#SuperSoccerGoesToSingapore

4 Mei 2015, di tengah Pemirama Untan
Randa Reynaldi - Guru Negarawan - Pengamat Sepakbola - School For Nation Leader 1

Minggu, 25 Mei 2014

Final UCL 2014 | Magis Carletto | Rekor CR7 | Kartu Merah Diego Simeone

Final UCl 2014 yang digelar di kota Lisbon, Portugal bagaikan sebuah Drama yang tidak bisa ditebak ujung ceritanya

Atletico Madrid yang unggul terlebih dahulu melalui gol Diego Godin di babak pertama membuat pendukung Real Madrid menjadi terdiam seribu bahasa.

Atletico yang sangat menantikan gelar ini menjadi bermain lebih pragmatis setelah berhasil mencetak gol tersebut. Menumpuk begitu banyak pemain di tengah dan hanya mengandalkan serangan balik menjadi strategi Gabi dkk di babak kedua

Hal tersebut membuat Cristiano Ronaldo dkk sangat ksulitan menembus pertahanan Atletico. serangan yang dibangun dari kiri, kanan, dan tengah dapat dimentahkan dengan baik oleh solidnya lini pertahanan Atletico.

3 menit menjelang pertandingan berakhir terlihat para penonton di Bundaran Untan (tempat saya nonbar) hampir semuanya berdiri untuk bersiap meninggalkan tempat duduk. Ucapan selamat atletico sudah bergaung

Hingga tibalah waktu yang disebut dengan antiklimaks

Beberapa detik menjelang peluit panjang dibunyikan, Real Madrid mendapat sepak pojok (corner kick). Dan Heading indah dari Sergio Ramos meluncur deras ke gawang Cuortouis. 

Bundaran Untan meledak ! Para pendukung madrid yang awalnya terdiam seribu bahasa langsung lompat-lompat kegirangan menyambut Gol dari Sergio Ramos. Elegannya adalah reaksi dari Carletto yang begitu dingin dalam menyambut gol itu !





Pertandingan waktu normal berakhir dan karena kedudukan masih imbang maka babak perpanjangan waktu (2x15) menit harus dilalui oleh kedua tim

Seakan-akan bangkit dari keterpurukan, Momentum pertandingan menjadi milik Real Madrid. Gareth Bale dkk terus menerus menggempur pertahanan Ateltico. 10 menit menjelang babak perpanjangan waktu berakhir (tepatnya menit 110), aksi brillian Di Maria di sisi kanan pertahanan atletico berhasil dimanfaatkan oleh Bale untuk menggandakan keunggulan. Madrid unggul 2-1

Atletico mencoba bangkit ! namun apadaya, ditengah-tengah menuju kebangkitan tersebut, Marcelo dan Cristiano Ronaldo mengubur harapan Atletico. Gol dimenit 118 & 120 semakin memuluskan langkah el real untuk meraih La Decima 

Congrats Madrid !




Dibalik jalannya pertandingan yang menegangkan itu terdapat berbagai faktor yang menjadi sorotan saya

1. Magis Carletto
    
Kehebatan Carletto memang teruji.Keputusannya memasukkan Marcelo dan Isco di awal babak kedua adalah kunci berhasilnya el real. Terutama Marcelo, pemain ini bergitu bersemangat dengan aksi-aksi dribblingnya. Bahkan courtouis pun tak bisa meredam tendangan keras dari Marcelo.

2. Man Of The Match

Jika ditanya siapa MOTM dalam pertandingan ini, maka saya bingung memilih diantara 2 nama. Yaitu Sergio Ramos dan Di Maria. Sergio Ramos adalah seorang hero bak di film-film action yang menyelamatkan Real MAdrid. Namun aksi Di Maria dai awal pertandingan juga sangat brilliant. terutama aksinya yang mengawali gol kedua Madrid. sungguh skill yang begitu elegan ditunjukkan oleh pemain berkebangsaan Argentina ini. UEFA sendiri telah merilis bahwasanya MOTM dalam pertandingan ini ialah Sergio Ramos

3. Rekor CR7

Gol yang diciptakan CR7 melalui titik putih di penghujung laga (walapun menurut saya itu tidak sepatutnya menjadi penalti) telah menciptakan rekor baru tersendiri di Liga Champions. 17 gol yang dihasilkannya membuat Ronaldo menjadi pemain dengan jumlah gol terbanyak dalam satu musim. selain itu, 17 Gol tersebut juga membuat Ronaldo menyamai prestasi Falcao yang  berhasil membuat 17 Gol dalam satu musim di kompetisi Eropa. Ronaldo juga merupakan pemain pertama yang mencetak 2 gol di final berbeda bersama klu yang berbeda (Manchester United dan Real Madrid).


4. Kartu Merah Diego Simeone

Kejadian yang menimpa Diego Simeone di akhir laga menjadi perhatian besar bagi semua orang. Setelah melalui sejumlah hasil yang superior (termasuk juara La Liga), di akhir pertandingan tadi Diego Simeone terpancing emosinya. Ia bahkan masuk ke dalam lapangan dan menyerang Varane. Kartu Merah pun diberikan oleh wasit kepada pelatih yang sedang naik daun ini. Lantas apa penyebabnya? Ternyata penyebab dari kemarahan Diego Simeone ini karena Varane (bek real madrid) menendang bola ke arah bench atletico. 

5. Tweet - tweet pilihan usai laga final

@David_Alaba: Congratulation to Madrid, but also big respect to Athletico for this CL season! And we will do everything next year to fulfill our dreams!

@Gabi, "We are desperately disappointed. We didn't create many opportunities and they were the better side."

@Simeone: "I told my player that it's pointless to cry. They must be proud of themselves and think of next season." #UCLfinal

@hnurwahid: Akhirnya La Decima! Hala Madrid! Dari 0-1 diubah jadi 4-1! Dan Real Madrid juarai Liga Champion! Kemenangan yg sangat berkesan!


Sekian ! :)

Follow me @RandaBola