Tampilkan postingan dengan label Randa Reynaldi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Randa Reynaldi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Februari 2015

Aksi Hari Guru - Suara Guru Di Perbatasan

ALIANSI MAHASISWA PEDULI GURU
DALAM RANGKA MENYAMBUT HUT PGRI KE-69
 “SUARA GURU DI PERBATASAN”

Perbatasan negara merupakan manifestasi utama kedaulatan wilayah suatu negara. Perbatasan suatu negara mempunyai peranan penting dalam penentuan batas wilayah kedaulatan, pemanfaatan sumber daya alam, menjaga keamanan dan keutuhan wilayah. Di Kalimantan Barat khususnya yang langsung berbatasan dengan  Serawak Malaysia Timur, kondisi geografis dan topografi nya masih terisolir, karena keterbatasan prasarana jalan, transportasi darat, sungai serta fasilitas publik lainnya. Kondisi ini berdampak pada kondisi kesejahteraan sosial, ekonomi, pendidikan dan keterampilan masyarakat daerah perbatasan yang masih tertinggal dibanding dengan masyarakat daerah lainnya.
Khususnya dalam hal pendidikan, daerah perbatasan mengalami ketertinggalan yang memprihatinkan. Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tiga indikator yaitu ekonomi, kesehatan (UHH) serta pendidikan (angka melek huruf), maka posisi Propinsi Kalimantan Barat berada pada urutan 29 dari 33 provinsi di Indonesia. Disinilah perlu upaya yang keras dari pemerintah untuk meningkatkan berbagai program terkait masalah ekonomi, kesehatan dan pendidikan di Kalimantan Barat terlebih untuk kabupaten di Kalbar yang merupakan perbatasan dengan negara lain yang menjadi beranda depan negara kita.
Apabila terdapat harapan yang besar untuk peningkatan kualitas suatu bidang, tentu harus dibarengi dengan kesejahteraan tenaga ahli - dalam hal ini kesejahteraan guru. Berdasarkan kenyataan tersebut diatas, menyoroti kondisi guru di perbatasan beserta segala kekurangan dan tantangan yang mereka hadapi, juga sehubungan dengan momentum peringatan hari Persatuan Guru Republik Indonesia yang ke-69, kami atas nama Aliansi Mahasiswa Peduli Guru, hendak menggaungkan beberapa persoalan dan tuntutan dari suara guru di perbatasan, yaitu :
1. Peningkatan Jumlah Guru Di Daerah Perbatasan
2. Pemerataan “Tunjangan Guru” Di Daerah Perbatasan
3. Peningkatan Kesejahteraan Guru Di Daerah Perbatasan
4. Pengefektifan Kurikulum 2013 Di Daerah Perbatasan

Demikian pernyataan tuntutan ini dibuat agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Hidup Guru !
Hidup Mahasiswa !
                
Pontianak, 25 November 2014


Aliansi Mahasiswa Peduli Guru







MUNAS BEM SI 2015



“Mengawal Kepemimpinan Baru Indonesia”, itulah tema kegiatan Musyawarah Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (Munas BEM SI) ke VIII, yang dilaksanakan di Universitas Tanjungpura, pada tanggal 29 Januari – 3 Februari 2015 dengan BEM Untan sebagai tuan rumah. Acara Munas yang digelar di aula gedung Siskom Universitas Tanjungpura dihadiri oleh 94 perguruan tinggi seluruh Indonesia, dengan jumlah peserta yang mencapai lebih dari 200 orang.
“Ini adalah sejarah baru bagi BEM Untan dan ini merupakan penyelengaraan Munas BEM SI dengan peserta terbanyak,” ujar Rahmat Saiful, Presiden Mahasiswa Untan.
                Acara Munas ini diawali oleh seminar tentang “bagaimana pentingnya membangun daerah perbatasan” yang disampaikan oleh  Wakil ketua MPR RI, Oesman Sapta Odang. Kemudian dilanjutkan dengan agenda bedah buku ”blok mahakam” bersama Marwan Batubara dan Drs. Hatta Taliwang.
Acara inti dari Munas BEM SI ini ialah untuk mengevaluasi kinerja koordinator pusat, koordinator forum perempuan, koordinator wilayah dan koordinator isu. Selain itu, dalam MUNAS ini juga menetapkan koordinator pusat, koordinator forum perempuan, koordinator wilayah dan koordinator isu untuk periode selanjutnya. Diakhir sidang, ditetapkan pula isu apa saja yang akan dikawal oleh BEM SI.
Hasil dari Munas BEM SI ini sendiri ialah ditetapkannya Universitas Lampung (Unila) sebagai koordinator pusat BEM SI, bersama dengan Universitas Riau sebagai koordinator pusat Forum Perempuan BEM SI. Selain itu juga terpilih koordinator masing – masing wilayah dan koordinator masing – masing isu (terlampir).
“Hal ini merupakan prestasi bagi BEM Unila yang tahun lalu menjadi Korwil se-Sumbagsel BEM SI. Saya berharap amanah ini dapat dijalankan dengan baik bersama semua rekan mahasiswa,” ungkap Ahmad Khairudin Syam selaku Presiden BEM Unila. Koordinator Pusat (Korpus) berperan sebagai koordinator utama dalam hal komunikasi, eskalasi keseluruhan isu, dan evaluasi yang dijalankan oleh BEM SI.
Di akhir sidang, membahas penetapan tempat rakernas 2015. Dari beberapa universitas yang mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah rakernas, akhirnya Universitas Andalas (Unand), Padang,  di sepakati forum untuk menjadi tuan rumah rakernas 2015.
Setelah sidang berakhir, para peserta Munas melakukan city tour ke beberapa tempat di kota Pontianak, seperti keraton kadariah, tugu khatulistiwa, dan pusat perbelanjaan oleh-oleh di PSP.
Salah satu peserta Munas dari Universitas Tanjungpura, Randa Reynaldi, mengatakan bahwa membersamai teman – teman mahasiswa se-Indonesia dalam kegiatan ini memberikan kesan yang begitu mendalam. “Disini saya bertemu dengan berbagai warna dan karakter Indonesia. Suatu kebangaan bisa berada satu forum selama 5 hari bersama para pemimpin masa depan Indonesia”.
Ketua BEM Untan, Rahmat Saiful berharap agar Oesman Sapta dapat menepati janjinya untuk menyampaikan hasil Munas tersebut kepada pemerintah. “Kita berharap dengan bapak Oesman Sapta untuk mempertemukan kita dengan bapak Presiden atau paling tidak menyampaikan hasil Munas kita kepada bapak Presiden,” ucapnya.


Berikut adalah daftar Koordinator Wilayah (Korwil) BEM SI 2015 & Koordinator Isu (Korsu) Nasional BEM SI 2015 :

Koordinator Wilayah (Korwil) BEM SI 2015 :
1. Sumbagut (UNSYIAH, Banda Aceh)
2. Sumbagsel (UNSRI, Palembang)
3. Jabodetabek-Banten (UNJ, Jakarta)
4. Jabar (UNPAD, Bandung)
5. Jogloseto (UNSOED, Purwokerto)
6. Jatim (UB, Malang)
7. Bali-Nusra (Univ. Mahasaraswati, Denpasar)
8. Kaltengbar (Univ. Tanjungpura, Pontianak)
9. Kaltimsel (Univ. Mulawarman, Samarinda)
10. Gorontalo (Univ. Negeri Gorontalo, Gorontalo)
11. Sulut (IAIN Manado, Manado)
12. Sul Tenggara (Univ. Lakidende)
13. Sul Tengah (Univ. Tadulako)
14. Papua (Univ. Musamus, Merauke)

Koordinator Isu (Korsu) Nasional BEM SI 2015:
1.       Bidang Ekonomi (UGM, Yogyakarta)
2.        Bidang Korupsi (UNPAD, Bandung)
3.       Bidang Pendidikan & Kebudayaan (UPI, Bandung)
4.       Bidanh Pertanian (IPB, Bogor)
5.       Bidang Energi (ITB, Bandung)
6.        Bidang Kesehatan (UNAIR, Surabaya)
7.       Bidang Lingkungan (Univ. Udayana, Denpasar)

8.       Bidang Maritim (ITS, Surabaya)

*Berita ini ditulis oleh Randa Reynaldi, untuk dimuat dalam majalah Buletin Pena (BULPEN) FKIP Untan 

Sabtu, 04 Januari 2014

Aku, Pena, Dan FLP !



tulisan ini adalah satu diantara beberapa tulisan yang saya buat ketika awal karir saya menggeluti tulis menulis. dan tulisan ini pun juga merupakan syarat untuk bisa mengikuti acara perekrutan anggota FLP yang pada saat itu bernama "PEDASMEN" (Pelatihan Dasar Menulis). kalo tidak salah PEDASMEN 3 (berarti saya angkatan ke 3)...........

Aku!!! Aku adalah seseorang yang tidak suka menulis dan membaca. Ya… Pada awalnya seperti itu. Aku sangat tidak suka dengan menulis dan membaca. Apabila ada pelajaran menulis ataupun membaca akupun cepat merasa bosan. Aku lebih suka dengan pelajaran yang menggunakan pikiran, seperti Matematika.

AWAL PERUBAHAN

Namun, jalan hidupku berubah sejak masuk SMA. Aku memiliki banyak teman yang mempunyai hobi gemar membaca. Dimulai dari membaca komik, novel, hingga buku – buku motivasi. Karena mereka semua itulah akhirnya aku senang membaca. Aku senang membaca buku apa saja. Baik itu buku motivasi, komik, cerpen, novel, hingga buku islami. Diantara semua itu, buku – buku motivasi merupakan bacaan kesukaanku. Setiap kali aku membaca buku – buku motivasi, keinginanku untuk menjadi pribadi yang baik semakin kuat. Aku mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Alhamdulillah, buku – buku itu berhasil merubah kepribadianku. Aku banyak merasakan perubahan di dalam diriku ini. Mulai dari cara belajar, sifat – sifatku, hingga akhlak ku pun menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya. Aku merasa bersyukur bisa memiliki teman seperti mereka. Seandainya saja aku tidak bertemu dengan mereka, mungkin aku masih benci dengan yang namanya membaca.

Bukan hanya dalam hal membaca saja aku mengalami perubahan, ternyata menulis pun juga begitu. Berawal dari membaca, membaca, dan membaca. Aku pun memiliki keinginan untuk menulis. Aku kagum dengan penulis – penulis yang bisa menerbitkan tulisannya dalam bentuk buku ataupun semacamnya. Menurutku, tulisan bukan hanya dapat dibaca oleh orang yang membacanya, namun tulisan juga dapat mempengaruhi seorang pembaca tersebut. Aku contohnya. Sejak membaca tulisan – tulisan yang memotivasi diriku untuk menulis, aku pun memiliki impian untuk menjadi seorang penulis.

TULISAN PERTAMA

Aku mulai memberanikan diri untuk menulis. Namun setiap kali aku ingin memulai menulis, selalu saja ada halangan yang menghadang. Hingga akhirnya aku berhasil membuat tulisan ku yang pertama. Tulisan tersebut dalam bentuk cerpen. Awal mulanya adalah ketika guru Bahasa Indonesia ku disekolah memberi tugas untuk membuat cerpen. Aku sangat senang dengan tugas yang diberikan oleh guruku itu. Namun, aku mengalami kesulitan dalam proses pembuatan tugas tersebut. Aku beberapa kali menggonta – ganti cerita dikarenakan tersendatnya cerita yang aku buat.

Deadline pengumpulan tugas adalah besok. Sedangkan cerpen ku belum selesai. Jangankan selesai, satu baris saja pun belum. Hingga pada akhirnya aku mendapatkan sebuah ide pada jam 10 malam.  Dengan segera, aku pun langsung menuliskan ide tersebut. Alhamdulillah, cerpen dengan judul “Hidup Berawal dari Mimpi” selesai dibuat. Ternyata cerpen pertama ku itu mendapat reaksi positif dari guru dan teman – temanku. Ketika aku selesai membacakan resensi dari cerpen yang aku buat di depan kelas, aku mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari teman – temanku. Sungguh, aku sangat senang. Mengapa ? Karena itu adalah tulisan pertama yang aku buat, dan aku mendapat sambutan positif dari apa yang aku tulis tersebut.

FLP!!!

                Suatu hari ketika aku membuka facebook, aku melihat ada sebuah pamflet dengan judul ‘Yuk Gabung Flp’. Segera aku baca isi pamflet tersebut. Wow! Amazing! Ternyata ada juga acara seperti ini. Acara seperti ini lah yang aku nantikan selama ini. Aku baca dari waktu, tempat, hingga persyaratannya. Tidak ada yang menjadi kendala. Aku harus ikut acara ini. Aku berharap dengan mengikuti acara ini, aku bisa memperoleh banyak ilmu dalam hal menulis.

Aku telah lama mengenal Flp. Sudah banyak buku – buku dari Flp yang telah aku baca. Hampir semua buku – buku dari Flp sangat ku sukai. Buku – buku tersebut terkadang memberikan motivasi terhadap diriku. Salah satu buku terbitan Lingkar Pena yang pernah aku baca adalah ‘Jodoh Cinta Update’. Buku tersebut membahas mengenai bagaimana cara kita mempersiapkan diri dalam menjemput jodoh. Jujur, kisah – kisah yang ada di dalam buku tersebut penuh akan makna. Kisah tersebut dapat dijadikan pembelajaran oleh pembacanya, termasuk aku. Masih banyak buku lainnya yang sangat aku sukai dari Lingar Pena. Seperti ‘Muhasabah Cinta Seorang Istri’. Walaupun secara garis besar buku ini diterbitkan untuk wanita – wanita, namun aku merasa mendapat manfaat yang begitu besar setelah membaca buku tersebut. Aku bisa merasakan bagaimana perasaan seorang istri ketika menghadapi berbagai persoalan rumah tangga. Aku pun juga bisa merasakan betapa pentingnya menjaga keharmonisan dalam sebuah rumah tangga. Aku mengucapkan terima kasih kepada Flp yang telah menerbitkan buku – buku semacam ini. Karena buku – buku seperti inilah yang harus dibaca oleh para remaja yang ingin mempersiapkan diri dalam menghadapi pernikahan.

Aku pun juga berharap suatu saat nanti aku bisa bergabung dalam FLP. Aku ingin membuat buku yang bisa menjadi motivasi bagi setiap pembacanya, dan tentunya setiap pembaca bisa merasakan kepuasan terhadap apa yang ia baca.

Jika kau ingin mengenal dunia, maka Membacalah!
Jika kau ingin dikenal dunia, maka Menulislah! 
(ucap Ust Felix Siauw ketika mengunjungi kota khatulistiwa)