Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Oktober 2014

Soal Rasa (Rizki & Jodoh) - Ust Salim A Fillah






Aku tahu, rizqiku takkan diambil orang, karenanya hatiku tenang..
Aku tahu, ‘amalku takkan dikerjakan orang, karenanya kusibuk berjuang..
-Hasan Al Bashri-

Pemberian uang yang sama-sama sepuluh juta, bisa jadi sangat berbeda rasa penerimaannya. Kadang ia ditentukan oleh bagaimana cara menghulurkannya.
Jika terada dalam amplop coklat yang rapi lagi wangi, dihulurkan dengan senyum yang harum dan sikap yang santun, betapa berbunga-bunga kita menyambutnya. Apatah lagi ditambah ucapan yang sopan dan lembut, “Maafkan sangat, hanya ini yang dapat kami sampaikan. Mohon diterima, dan semoga penuh manfaat di jalan kebaikan.”
Ah, pada yang begini, jangankan menerima, tak mengambilnya pun tetap nikmat rasanya. Semisal kita katakan, “Maafkan Tuan, moga berkenan memberikannya pada saudara saya yang lebih memerlukan.” Lalu kita tahu, ia sering berjawab, “Wah, jika demikian, kami akan siapkan yang lebih baik dan lebih berlimpah untuk Anda. Tapi mohon tunggu sejenak.”
Betapa berbeda rasa itu, dengan jumlah sepuluh juta yang berbentuk uang logam ratusan rupiah semuanya. Pula, ia dibungkus dengan karung sampah yang busuk baunya. Diberikan dengan cara dilempar ke muka, diiringi caci maki yang tak henti-henti. Betapa sakitnya. Betapa sedihnya. Sepuluh juta itu telah hilang rasa nikmatnya, sejak mula ia diterima.
Inilah di antara hakikat rizqi, bahwa ia bukan soal berapa. Sungguh ia adalah nikmat yang kita rasa. Sebab sesungguhnya, ia telah tertulis di langit, dan diterakan kembali oleh malaikat ketika ruh kita ditiupkan ke dalam janin di kandungan Ibunda. Telah tertulis, dan hendak diambil dari jalan manapun, hanya itulah yang menjadi jatah kita. Tetapi berbeda dalam soal rasa, karena berbeda cara menghulurkannya. Dan tak samanya cara memberikan, sering ditentukan bagaimana adab kita dalam menjemput dan menengadahkan tangan padaNya.
Rizqi memiliki tempat dan waktu bagi turunnya. Ia tak pernah terlambat, hanyasanya hadir di saat yang tepat.
“Janganlah kalian merasa bahwa rizqi kalian datangnya terlambat”, demikian sabda Rasulullah yang dibawakan oleh Imam ‘Abdur Razzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, “Karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba meninggal, hingga telah datang kepadanya rizqi terakhir yang ditetapkan untuknya. Maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, yaitu dengan  yang halal dan meninggalkan yang haram.”
Jika jodoh adalah bagian dari rizqi, boleh jadi berlaku pula kaidah yang sama. Sosok itu telah tertulis namanya. Tiada tertukar, dan tiada salah tanggal. Tetapi rasa kebersamaan, akan ditentukan oleh bagaimana adab dalam mengambilnya. Bagi mereka yang menjaga kesucian, terkaruniakanlah lapis-lapis keberkahan. Bagi mereka yang mencemarinya dengan hal-hal mendekati zina, ada kenikmatan yang kan hilang meski pintu taubat masih dibuka lapang-lapang. Sebab amat berbeda, yang dihulurkan penuh keridhaan, dibanding yang dilemparkan penuh kemurkaan.
Rizqi adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian. Ujian yang menentukan rasa kehidupan. Di lapis-lapis keberkahan dalam setetes rizqi, ada perbincangan soal rasa. Sebab ialah yang paling terindra dalam hayat kita di dunia.
***
Di antara makna rizqi adalah segala yang keluar masuk bagi diri dengan anugrah manfaat sejati. Nikmat adalah rasa yang terindra dari sifat maslahatnya. Kasur yang empuk dapat dibeli, tapi tidur yang nyenyak adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di alas koran yang lusuh, dan bukan di ranjang kencana yang teduh. Hidangan yang mahal dapat dipesan, tetapi lezatnya makan adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di wadah daun pisang bersahaja, bukan di piring emas dan gelas berhias permata.
Atau bahkan, ada yang memandang seseorang tampak kaya raya, tapi sebenarnya Allah telah mulai membatasi rizqinya.
Ada yang bergaji 100 juta rupiah setiap bulannya, tapi tentu rizqinya tak sebanyak itu. Sebab ketika hendak meminum yang segar manis dan mengudap yang kue yang legit, segera dikatakan padanya, “Awas Pak, kadar gulanya!” Ketika hendak menikmati hidangan gurih dengan santan mlekoh dan dedagingan yang lembut, cepat-cepat diingatkan akannya, “Awas Pak, kolesterolnya!” Hatta ketika sup terasa hambar dan garam terlihat begitu menggoda, bergegaslah ada yang menegurnya, “Awas Pak, tekanan darahnya!”
Rasa nikmat itu telah dikurangi.
Lagi-lagi, ini soal rasa. Dan uang yang dia himpunkan dari kerja kerasnya, amat banyak angka nol di belakang bilangan utama, disimpan rapi di Bank yang sangat menjaga rahasia, jika dia mati esok pagi, jadi rizqi siapakah kiranya? Apa yang kita dapat dari kerja tangan kita sendiri dan kita genggam erat hari ini, amat mungkin bukan hak kita. Seperti hartawan yang mati meninggalkan simpanan bertimbun. Mungkin itu mengalir ke ahli warisnya, atau bahkan musuhnya. Allah tak kekurangan cara untuk mengantar apa yang telah ditetapkanNya pada siapa yang dikehendakiNya.
Rizqi sama sekali bukan yang tertulis sebagai angka gaji.
Seorang pemilik jejaring rumah makan dari sebuah kota besar Pulau Jawa, demikian cerita shahibul hikayat yang kami percaya, dengan penghasilan yang besarnya mencengangkan, punya kebiasaan yang sungguh lebih membuat terkesima. Sepanjang hidupnya, tak pernah dia bisa berbaring di kasur, apalagi ranjang berpegas. Dia hanya bisa beristirahat jika menggelar tikar di atas lantai dingin, tepat di depan pintu.
Rizqi sama sekali bukan soal apa yang sanggup dibeli.
Ada lagi kisah tentang seorang pemilik saham terbesar sebuah maskapai penerbangan yang terhitung raksasa di dunia. Armada pesawat yang dijalankan perusahaannya lebih dari 100 jumlahnya. Tetapi dia menderita hyperphobia, yakni rasa takut terhadap ketinggian. Seumur hidupnya, yang bersangkutan tak pernah berani naik pesawat.
Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dikuasai.
Sebaliknya pula, ada seorang lelaki bersahaja yang tidak mampu membeli mobil sepanjang hidupnya. Tapi sungguh Allah telah menetapkan bahwa rizqinya adalah naik mobil ke mana-mana. Maka para tetangga selalu berkata bergiliran padanya, “Mas, tolong hari ini pakai mobil saya untuk kegiatannya ya. Saya senang kalau Mas yang pakai. Sungguh karenanya terasa ada berkah buat kami sekeluarga.” Dan pemilik mobil pergi bekerja ke kantornya dengan mengayuh sepeda. Sebab itulah yang disarankan dokter padanya.
Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dimiliki.
***
Dzat Yang Mencipta kita, sekaligus menjamin rizqi bagi penghidupan kita, adalah Pemilik, Pemelihara, dan Pengatur segala urusan kita. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tiada sekutu bagiNya. Maka bagaimana kiranya, jika anugrah dariNya justru kita gunakan untuk mendurhakaiNya? Maka apa jadinya, jika dengan karuniaNya kita malah tenggelam dalam maksiat dan dosa?
“Sesungguhnya seseorang dihalangi dari rizqinya”, demikian Rasulullah bersabda sebagaimana dicatat oleh Imam Ahmad, “Disebabkan dosa yang dilakukannya.”
Ada beberapa keterangan ‘ulama tentang dosa menghalangi rizqi ini, yang selaiknya kita simak. Pertama, bahwa memang yang bersangkutan terhalang dari rizqinya, hingga ke bentuk zhahir rizqi itu. Ini sebagaimana firman Allah tentang dakwah Nuh pada kaumnya.
“Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan di dalamnya sungai-sungai.” (QS Nuh [71]: 10-12)
“Maknanya”, demikian ditulis Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirul Quranil ‘Azhim, “Jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa mentaatiNya, niscaya Dia akan membanyakkan rizqi kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit.”
“Selain itu”, lanjut beliau, “Dia juga akan mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya terdapat bermacam-macam buah untuk kalian, serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu untuk kalian.”
Jika bertaubat menjadikan berlimpahnya bentuk rizqi, maka berdosa berarti membatalkan semua itu. Ini pemahaman pembalikannya.
Keterangan yang kedua, bahwasanya yang dihalangi dari si pendosa adalah rasa nikmat yang dikaruniakan Allah dari berbagai bentuk rizqi tersebut. Rizqi tetap hadir, tapi rasa nikmatnya dicabut. Rizqi tetap turun, tapi rasa lezatnya dihilangkan. “Maka”, demikian menurut Imam An Nawawi, “Karena dosa yang menodai hatinya, hamba tersebut kehilangan kepekaan untuk menikmati rizqinya dan mensyukuri nikmatnya. Dan ini adalah musibah yang sangat besar.”
Hujjah bahwa semua bentuk rizqi itu tetap turun, ada dalam berbagai hadits Rasulillah. Ada yang sudah kita sebut, demikian pula yang berikut ini:
“Sesungguhnya Jibril mengilhamkan ke dalam hatiku”, demikian sabda Rasulullah dalam riwayat Imam Ath Thabrani dan Al Baihaqi, “Bahwa tidak ada satu pun jiwa yang meninggal kecuali telah sempurna rezekinya. maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezeki. Jangan sampai lambatnya rezeki menyeret kalian untuk mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah, karena apa yang ada pada sisi Allah tidak akan bisa diperoleh dengan bermaksiat kepada-Nya.”
“Apa yang ada di sisi Allah”, demikian lanjut Imam An Nawawi, “Adalah ridhaNya yang menjadikan rizqi itu ternikmati di dunia, berkah senantiasa, dan menjadi pahala di akhirat. Maka memang ia tak dapat diraih dengan kemaksiatan dan dosa.”
“Adapun ayat dalam Surah Nuh”, terusnya, “Khithab da’wahnya ditujukan kepada orang kafir, yang meskipun mereka mengingkari Allah dan menyekutukanNya, tapi Allah tidak memutus rizqi mereka secara mutlak. Akan tetapi, jika mereka beristighfar dan bertaubat, sesungguhnya karunia yang lebih besar pastilah Allah limpahkan.”
Menghimpun kedua catatan ini, amat jadi renungan sebuah kisah tentang Imam Hasan Al Bashri. Pada suatu hari, seorang lelaki datang kepada beliau. “Sesungguhnya aku”, ujarnya pada Tabi’in agung dari Bashrah itu, “Melakukan banyak dosa. Tapi ternyata rizqiku tetap lancar-lancar saja. Bahkan lebih banyak dari sebelumnya.”
Sang Imam tersenyum prihatin. Beliau lalu bertanya, “Apakah semalam engkauqiyamullail wahai Saudara?”
“Tidak”, jawabnya heran.
“Sesungguhnya jika Allah langsung menghukum semua makhluq yang berdosa dengan memutus rizqinya”, jelas Hasan Al Bashri, “Niscaya semua manusia di bumi ini sudah habis binasa. Sungguh dunia ini tak berharga di sisi Allah walau sehelai sayap nyamukpun, maka Allah tetap memberikan rizqi bahkan pada orang-orang yang kufur kepadaNya.”
“Adapun kita orang mukmin”, demikian sambung beliau, “Hukuman atas dosa adalah terputusnya kemesraan dengan Allah, Subhanahu wa Ta’ala.”
***
Lagi-lagi terrenungi, bahwa di lapis-lapis keberkahan, ini soal rasa. Semoga Allah melimpahkan rizqiNya kepada kita, dan menjaga kita dari bermaksiat padaNya. Dengan begitu, sempurnalah datangnya nikmat itu dengan kemampuan kita menikmati rasa lezatnya, lembutnya, dan harumnya. Di lapis-lapis keberkahan, soal rasa adalah terjaganya kita dari dosa-dosa.

sepenuh cinta, dinukil dari:
Lapis-Lapis Keberkahan, Setitis Rizqi

sumber : http://salimafillah.com/rizqi-kita-soal-rasa/


Rabu, 27 Agustus 2014

Inspirasi Dari Kegagalan Leonardo Da Vinci


Buku Michael Hart diatas berkisah tentang 100 Tokoh paling berpengaruh dalam sejarah di dunia...

Seperti yang kita ketahui (pertama kali saya mengetahuinya ketika acara training di sekolah), 100 Tokoh tersebut diurutkan dari angka 1 - 100. Dan tokoh yang berada dalam urutan 1 (pertama) adalah Muhammad.

Di tulisan ini saya tidak akan membahas hal itu. Namun saya akan membahas tentang seorang tokoh yang bernama Leonardo Da Vinci.

Leonardo Da Vinci adalah seorang tokoh besar yang "justru" tidak masuk kedalam 100 tokoh paling berpengaruh di buku ini. Uniknya, di buku ini memuat 10 tokoh yang masuk kedalam bab tambahan "Tokoh - Tokoh Yang Terlewat". Dan nama Leonardo Da Vinci tercantum di pembahasan ini.


(Leonardo Da Vinci)

Di dalam buku ini, Michael Hart mengatakan "Jika buku ini merupakan daftar orang-orang paling hebat, tentu nama Leonardo akan dimasukkan ke dalam 50 nama teratas."

Apa yang disampaikan sang penulis tentunya memberikan makna bahwa Leonardo adalah seorang pintar nan genius yang pernah terlahir ke dunia ini. Dalam catatannya, Leonardo meninggalkan begitu banyak sketsa-sketsa penciptaan modern, seperti pesawat terbang dan kapal selam. Catatan yang ditulis oleh Leonardo tersebut membuktikan bahwa betapa briliannya ide yang dimiliki olehnya. Namun itu tak lebih dari sekedar catatan saja. Gambar - gambar yang ada di catatannya tidak memberikan pengaruh nyata pada perkembangan ilmu pengetahuan.

Mengapa dikatakan tidak memberikan pengaruh nyata? Karena Leonardo tidak pernah benar-benar membangun model ciptannya itu. Ide yang dimilikinya hanya sebatas tertuang di dalam catatannya saja.

Yang perlu digaris bawahi, Para pencipta hebat bukanlah mereka - mereka yang memiliki ide brilian tapi gagal mewujudkannya, melainkan mereka orang-orang seperti Thomas Edison, James Watt, atau Wright bersaudara yang mengekspresikan ide mereka kedalam tindakan nyata dan bersabar untuk mengerjakan setiap detail ide tersebut serta mengatasi kesulitan-kesulitan saat merancang sesuatu yang sebenarnya berfungsi.


Terlebih lagi, selain ide - ide tersebut hanya terkubur di dalam sebuah buku catatan, ide - ide tersebut juga tak pernah dipublikasikan oleh Leonardo ke khayalak ramai hingga berabad-abad berlalu setelah kematiannya. Pada saat buku catatannya itu (yang tulisannya ternyata tertulis terbalik) dipublikasikan, ide - ide di balik ciptannya telah ditemukan secara independen oleh orang lain. 

Kesimpulan dari cerita ini adalah Leonardo merupakan salah satu orang "berbakat" yang pernah terlahir kedunia ini, namun ia bukanlah salah satu dari seratus orang paling berpengaruh yang pernah hidup. Sehingga Leonardo belum layak untuk masuk ke dalam buku ini (100 Tokoh Paling Berpengaruh Di Dunia)...


Dari sepenggal kisah Leonardo Da Vinci yang ternyata tidak termasuk ke dalam 100 Tokoh Paling Berpengaruh Di Dunia versi Michael Hart, dapat kita cermati bahwasanya, Pertama; Mengaplikasikan ide ke dalam tindakan nyata begitu penting. Jangan biarkan ide / gagasan tersebut hanya tertuang di dalam buku catatan saja. Kedua; Publikasikanlah ide yang kita miliki. Jangan hanya terkubur sendiri didalam pikiran / catatan pribadi, sama halnya dengan yang dialami Leonardo.......


Rabu, 23 Juli 2014

Adab Memberi Nasehat

“Seorang mu’min menutup (aib saudaranya) dan menasehatinya.

Sedangkan seorang fajir (pelaku maksiat) membocorkan (aib saudaranya) dan memburuk-burukkan.”

Sejatinya, nasihat dan celaan itu bedanya tipis | Nasihat diberikan secara rahasia, sedangkan celaan disampaikan secara terang-terangan

Apabila engkau memberi nasehat, maka nasehatilah secara rahasia, jangan di hadapan orang lain

Al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah (wafat tahun 354 H) berkata :
“Nasihat itu merupakan kewajiban manusia semuanya, tetapi dalam teknik penyampaiannya haruslah dengan secara rahasia, tidak boleh tidak.....
karena barangsiapa yang menasihati saudaranya di hadapan orang lain, maka berarti dia telah mencelanya,

dan barangsiapa yang menasihatinya secara rahasia, maka berarti dia telah memperbaikinya.

Sesungguhnya penyampaian dengan penuh perhatian kepada saudaranya sesama muslim adalah kritik yang membangun, dan lebih besar kemungkinannya untuk diterima dibandingkan penyampaian dengan maksud mencelanya.

Hendaknya kritik atau nasihat disampaikan dengan cara yang baik dan tidak melukai perasaan dengan cara mengungkapkannya langsung secara personal tidak di hadapan forum atau untuk kehati-hatian, hendaknya dilakukan dengan secara sembunyi-sembunyi


Nasihat apabila dilakukan sesuai adabnya, insya Allah akan menjadi sebuah kasih sayang, dan Ukhuwah pun akan terasa

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (Surat An-Nuur: 19)
#TepatMemberiNasihat
#RumahPedas



kultwit diatas adalah kutipan dari buku "Tepat Memberi Nasehat" karyanya Ust. Fariq Gasim Anuz.... buku ini "highly reccommendeed" jikalau teman-teman ingin membaca buku tentang adab dalam memberi nasehata ataupun tentang nasehat secara keseluruhan.... :)


Rabu, 09 Juli 2014

Mencintai Sejantan 'Ali - Jalan Cinta Para Pejuang

kisah antara 'Ali dan Fathimah begitu banyak memberikan inspirasi

Fathimah yang merupakan putri dari Rasulullah adalah sepupu 'Ali. bahkan 'Ali dan Fathimah sudah berteman sejak kecil


'Ali memiliki rahasia di dalam hatinya yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun; ia mengagumi Fathimah


suatu hari 'Ali merasa tersentak ketika mendengar kabar bahwa Fathimah dilamar oleh seorang lelaki


seorang lelaki yang paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. lelaki yang membela islam dengan harta dan jiwa sejak awal risalah


Lelaki yang iman dan akhlaknya tak diragukan lagi; Abu Bakr Ash Shiddiq


'Ali merasa bahwa dirinya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Abu Bakr.


keutamaan Abu Bakr, kontribusi dakwah Abu Bakr hingga harta yang dimiliki Abu Bakr jauh melebihi dirinya. dan 'Ali sadar akan itu


"Inilah persaudaraan dan cinta. Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku". Gumam 'Ali


"Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan "


Beberapa waktu berlalu, dan Allah masih menumbuhkan tunas di hatinya yang sempat layu


Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan 'Ali terus menjaga semangatnya untuk memperbaiki diri


Tapi ujian itu rupanya belum berakhir. setelah Abu Bakr ditolak, kembali datang lagi seorang laki-laki lain untuk melamar fatimah


Lelaki gagah perkasa, yang sejak masuk islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka


Seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut; Dialah 'Umar ibn al khathab


'Umar yang terkenal karena kegagahan dan keberaniannya, melebihi apa yang ada pada diri 'Ali


sekali lagi 'Umar lebih layak untuk bersama fatimah dan 'Ali ridha karenanya


ketika kabar itu terkuak, 'Ali semakin bingung. lamaran 'Umar ditolak. lalu menantu seperti apakah yang dikehendaki oleh Nabi?


Kalimat yang diucapkan oleh teman-teman anshar 'Ali menyadarkan dirinya


"mengapa bukan engkau yang mencoba kawan? aku punya firasat, bahwa engkaulah yang ditunggu-tunggu oleh baginda Nabi".


'Ali mencoba meyakinkan dirinya. dan kemudian ia langsung menghadap Sang Nabi dengan tujuan untuk menikahi fatimah


ia tahu secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. yang ia miliki hanya satu baju set besi serta tepung kasar untuk makannya


tapi meminta waktu dua-tiga tahun untuk bersiap-siap itu memalukan ! meminta fatimah untuk menantinya hingga di waktu ia siap, itu kekanakan


'Ali mencoba mendengarkan nuraninya. "Engkau pemuda sejati wahai 'Ali ! Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya


Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah maha kaya


Ahlan wa sahlan ! 'Ali diterima. dengan menggadaikan baju besi miliknya,


dan dengan rumah yang disumbangkan oleh kawan-kawannya, tapi Nabi bersikeras agar ia membayar cicilannya


'Ali pun menikahi Fathimah. dengan keberanian untuk menikah sekarang, bukan janji-jani dan nanti-nanti


Inilah jalan cinta para pejuang. Disini, cinta tak pernah meminta untuk menanti


Seperti 'Ali, ia mepersilahkan atau mengambil kesempatan


Yang pertama adalah pengorbanan, dan yang kedua adalah keberanian. Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita



dari tweet @randabola

melalui buku Ust Salim A Fillah - Jalan Cinta Para Pejuang



Selasa, 08 Juli 2014

Perpustakaan Berbasis Warung Kopi Di Kota Pontianak

Kemarin (7/7/2014) saya berkesempatan hadir dalam forum diskusi yang diinisiasi oleh perpustakaan wilayah Kalbar

tema diskusi tersebut sangat menarik, yaitu "Persiapan Membangun Perpustakaan Komunitas Berbasis Warung Kopi Di Kota Pontianak"

Diskusi tersebut dipandu oleh Bang Pay Jarot (salah satu pemateri ketika saya PAMB) dan menghadirkan 3 org pembicara

berbagai komunitas kepenulisan seperti FLP, komunitas membaca, owner toko buku, pemilik warung kopi, hingga organisasi kampus diundang ke dalam diskusi tersebut

sangat positif apa yang dibahas dalam diskusi tersebut !

Pemerintah melalui Perpustakaan Wilayah Kalimantan Barat ingin menumbuhkembangkan budaya membaca di masyarakat kota Pontianak

dan target yang dituju adalah ruang publik, yaitu Warung Kopi

ternyata konsep perpustakaan berbasis warung kopi seperti ini telah berkembang di berbagai kota Indonesia

target awalnya adalah 10 warung kopi yang akan menjadi opening dari gagasan ini

dengan paparan data dan fakta mengenai warung kopi semakin mendukung gagasan ini

warung kopi dewasa ini menjadi ruang publik yang begitu heterogen

tua-muda, pria-wanita menjadikan warung kopi sebagai tempat untuk bersantai bersama teman atau komunitas

melihat kedepan, gagasan ini sangat positif. budaya membaca masyarakat yang rendah memang sangat perlu ditingkatkan

terakhir, saya sangat terkesan dengan apa yang disampaikan oleh Pak Untad selaku pembicara dari pihak perpustakaan terkait adanya kemungkinan buku yang hilang

"saya lebih menyukai buku hilang tapi dibaca oleh orang ketimbang buku yang berdebu tapi tak pernah dibaca"




Minggu, 18 Mei 2014

Bahaya Televisi Terhadap Anak - Anak


Beberapa waktu yang lalu ketika ust felix mengisi training di kota khatulisitiwa, beliau sempat menyinggung mengenai pertelevisian
Televisi dan Buku bukanlah barang komplementer, melainkan barang substitusi
Orang yang sering menonton televisi, akan malas / jarang untuk membaca buku. Begitu juga sebaliknya
Beliau (ust felix) juga sempat berstatement bahwasanya beliau tidak menggunakan televisi dirumah
Alasannya sederhana ! Karena acara – acara di televisi negeri ini sangat tidak baik untuk ditonton.
Bukan Cuma acaranya, bahkan iklan pun juga begituan (sebagian besar)
Saya setuju dengan hal yang disampaikan beliau
Sudah lama problema tersebut berkecimuk di pikiran saya. Saya sangat kontra dengan apa yang ditampilkan di televisi saat ini
Mulai dari sinetron, acara hiburan yang tidak mendidik, hingga beberapa iklan yang bisa mempengaruhi pikiran khususunya bagi anak-anak
Yang menjadi objek perhatian saya adalah anak-anak | karena anak-anak sulit untuk memfilter apa yang masuk kedalam diri mereka
Mereka dengan mudahnya akan menerima apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar
Dewasa ini memang dicantumkan mana tayangan yang harus terdapat “BO”, Bimbingan Orang Tua dan mana yang tidak
Pertanyaannya, apakah peran Orang Tua dalam mengawasi anak-anak mereka sudah maksimal?
Iklan – iklan yang beredar saat ini secara tidak langsung mempengaruhi perilaku anak – anak
Iklan jajanan (makanan & minuman) misalnya | iklan – iklan seperti ini bisa membuat anak – anak menjadi berperilaku konsumtif
Selain itu hampir di semua iklan minuman menampilkan tata cara dalam minum ialah berdiri | padahal yang baik itu ialah minum sambil duduk
Pada beberapa acara yang ber”genre”kan hiburan, juga terdapat beberapa perilaku yang tidak mendidik
Pun sama halnya dengan sinetron | Kehidupan glamour dan peran antagonis adalah contoh yang tidak sepatutnya dilihat oleh anak-anak
Namun semua itu kembali diperlukan peran orangtua dalam membantu mengawasi perkembangan si anak
Memandang kedepan, memfilter tontonan anak adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan
Jikalau bisa, saya akan memilih beberapa program tayangan saja yang ada di tv saya
Olahraga, berita, agama, kartun (jenis kartunnya juga dipilih), serta sejarah dan pengetahuan umum akan menjadi channel pilihan saya
Karena lebih baik mencegah daripada mengobati :)
Sekian !

Kota Khatulistiwa | 18 Mei 2014 | 02:45 Wib


Selasa, 21 Januari 2014

Tepat Memberi Nasehat - Kultwit

Seorang mu’min menutup (aib saudaranya) dan menasehatinya.

sedangkan seorang fajir (pelaku maksiat) membocorkan (aib saudaranya) dan memburuk-burukkan.”

Sejatinya, nasihat dan celaan itu bedanya tipis | Nasihat diberikan secara rahasia, sedangkan celaan disampaikan secara terang-terangan

Apabila engkau memberi nasehat, maka nasehatilah secara rahasia, jangan di hadapan orang lain

Al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah (wafat tahun 354 H) berkata :

“Nasihat itu merupakan kewajiban manusia semuanya, tetapi dalam teknik penyampaiannya haruslah dengan secara rahasia, tidak boleh tidak.....

karena barangsiapa yang menasihati saudaranya di hadapan orang lain, maka berarti dia telah mencelanya,

dan barangsiapa yang menasihatinya secara rahasia, maka berarti dia telah memperbaikinya.

Sesungguhnya penyampaian dengan penuh perhatian kepada saudaranya sesama muslim adalah kritik yang membangun,

lebih besar kemungkinannya untuk diterima dibandingkan penyampaian dengan maksud mencelanya.


Nasihat apabila dilakukan sesuai adabnya, insya Allah akan menjadi sebuah kasih sayang, dan Ukhuwah pun akan terasa


Sabtu, 04 Januari 2014

Aku, Pena, Dan FLP !



tulisan ini adalah satu diantara beberapa tulisan yang saya buat ketika awal karir saya menggeluti tulis menulis. dan tulisan ini pun juga merupakan syarat untuk bisa mengikuti acara perekrutan anggota FLP yang pada saat itu bernama "PEDASMEN" (Pelatihan Dasar Menulis). kalo tidak salah PEDASMEN 3 (berarti saya angkatan ke 3)...........

Aku!!! Aku adalah seseorang yang tidak suka menulis dan membaca. Ya… Pada awalnya seperti itu. Aku sangat tidak suka dengan menulis dan membaca. Apabila ada pelajaran menulis ataupun membaca akupun cepat merasa bosan. Aku lebih suka dengan pelajaran yang menggunakan pikiran, seperti Matematika.

AWAL PERUBAHAN

Namun, jalan hidupku berubah sejak masuk SMA. Aku memiliki banyak teman yang mempunyai hobi gemar membaca. Dimulai dari membaca komik, novel, hingga buku – buku motivasi. Karena mereka semua itulah akhirnya aku senang membaca. Aku senang membaca buku apa saja. Baik itu buku motivasi, komik, cerpen, novel, hingga buku islami. Diantara semua itu, buku – buku motivasi merupakan bacaan kesukaanku. Setiap kali aku membaca buku – buku motivasi, keinginanku untuk menjadi pribadi yang baik semakin kuat. Aku mencoba untuk menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Alhamdulillah, buku – buku itu berhasil merubah kepribadianku. Aku banyak merasakan perubahan di dalam diriku ini. Mulai dari cara belajar, sifat – sifatku, hingga akhlak ku pun menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya. Aku merasa bersyukur bisa memiliki teman seperti mereka. Seandainya saja aku tidak bertemu dengan mereka, mungkin aku masih benci dengan yang namanya membaca.

Bukan hanya dalam hal membaca saja aku mengalami perubahan, ternyata menulis pun juga begitu. Berawal dari membaca, membaca, dan membaca. Aku pun memiliki keinginan untuk menulis. Aku kagum dengan penulis – penulis yang bisa menerbitkan tulisannya dalam bentuk buku ataupun semacamnya. Menurutku, tulisan bukan hanya dapat dibaca oleh orang yang membacanya, namun tulisan juga dapat mempengaruhi seorang pembaca tersebut. Aku contohnya. Sejak membaca tulisan – tulisan yang memotivasi diriku untuk menulis, aku pun memiliki impian untuk menjadi seorang penulis.

TULISAN PERTAMA

Aku mulai memberanikan diri untuk menulis. Namun setiap kali aku ingin memulai menulis, selalu saja ada halangan yang menghadang. Hingga akhirnya aku berhasil membuat tulisan ku yang pertama. Tulisan tersebut dalam bentuk cerpen. Awal mulanya adalah ketika guru Bahasa Indonesia ku disekolah memberi tugas untuk membuat cerpen. Aku sangat senang dengan tugas yang diberikan oleh guruku itu. Namun, aku mengalami kesulitan dalam proses pembuatan tugas tersebut. Aku beberapa kali menggonta – ganti cerita dikarenakan tersendatnya cerita yang aku buat.

Deadline pengumpulan tugas adalah besok. Sedangkan cerpen ku belum selesai. Jangankan selesai, satu baris saja pun belum. Hingga pada akhirnya aku mendapatkan sebuah ide pada jam 10 malam.  Dengan segera, aku pun langsung menuliskan ide tersebut. Alhamdulillah, cerpen dengan judul “Hidup Berawal dari Mimpi” selesai dibuat. Ternyata cerpen pertama ku itu mendapat reaksi positif dari guru dan teman – temanku. Ketika aku selesai membacakan resensi dari cerpen yang aku buat di depan kelas, aku mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari teman – temanku. Sungguh, aku sangat senang. Mengapa ? Karena itu adalah tulisan pertama yang aku buat, dan aku mendapat sambutan positif dari apa yang aku tulis tersebut.

FLP!!!

                Suatu hari ketika aku membuka facebook, aku melihat ada sebuah pamflet dengan judul ‘Yuk Gabung Flp’. Segera aku baca isi pamflet tersebut. Wow! Amazing! Ternyata ada juga acara seperti ini. Acara seperti ini lah yang aku nantikan selama ini. Aku baca dari waktu, tempat, hingga persyaratannya. Tidak ada yang menjadi kendala. Aku harus ikut acara ini. Aku berharap dengan mengikuti acara ini, aku bisa memperoleh banyak ilmu dalam hal menulis.

Aku telah lama mengenal Flp. Sudah banyak buku – buku dari Flp yang telah aku baca. Hampir semua buku – buku dari Flp sangat ku sukai. Buku – buku tersebut terkadang memberikan motivasi terhadap diriku. Salah satu buku terbitan Lingkar Pena yang pernah aku baca adalah ‘Jodoh Cinta Update’. Buku tersebut membahas mengenai bagaimana cara kita mempersiapkan diri dalam menjemput jodoh. Jujur, kisah – kisah yang ada di dalam buku tersebut penuh akan makna. Kisah tersebut dapat dijadikan pembelajaran oleh pembacanya, termasuk aku. Masih banyak buku lainnya yang sangat aku sukai dari Lingar Pena. Seperti ‘Muhasabah Cinta Seorang Istri’. Walaupun secara garis besar buku ini diterbitkan untuk wanita – wanita, namun aku merasa mendapat manfaat yang begitu besar setelah membaca buku tersebut. Aku bisa merasakan bagaimana perasaan seorang istri ketika menghadapi berbagai persoalan rumah tangga. Aku pun juga bisa merasakan betapa pentingnya menjaga keharmonisan dalam sebuah rumah tangga. Aku mengucapkan terima kasih kepada Flp yang telah menerbitkan buku – buku semacam ini. Karena buku – buku seperti inilah yang harus dibaca oleh para remaja yang ingin mempersiapkan diri dalam menghadapi pernikahan.

Aku pun juga berharap suatu saat nanti aku bisa bergabung dalam FLP. Aku ingin membuat buku yang bisa menjadi motivasi bagi setiap pembacanya, dan tentunya setiap pembaca bisa merasakan kepuasan terhadap apa yang ia baca.

Jika kau ingin mengenal dunia, maka Membacalah!
Jika kau ingin dikenal dunia, maka Menulislah! 
(ucap Ust Felix Siauw ketika mengunjungi kota khatulistiwa) 



Kamis, 05 Desember 2013

Sultan Mehmed II (Muhammad Al-Fatih)

Sudah lama mendengar dan mengetahui tentang kisah heroik ini. Namun ketika saya membaca lembar demi lembar kisah Sultan Mehmed II (yg dijuluki dengan Al Fatih) ini, ternyata banyak yang belum saya ketahui sebelumnya. Buku setebal 318 ini memuat cerita yang begitu runtun. Setiap Scene ceritanya membuat kita bak berada di tengah medan pertempuran... Dan saya akui bahwasanya saat ini saya sedang jatuh cinta dengan buku dan kisah heroik ini | Kisah Sultan Mehmed II (anaknya Sultan Murad II) bersama pasukannya dalam menaklukan kota Konstatinopel | ‪#‎Recommended‬


Sabtu, 16 November 2013

Pesona Jiwa Raga

Perjalanan Ke Puncak, Bogor ditemani oleh 3 Buku. Salah Satunya Buku Pak Anis Matta yang berjudul "Serial Cinta". Jam telah menunjukkan pukul 00.22 Wib, dan rasa kantuk juga belum melanda. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk membaca buku Serial Cinta agar rasa kantuk itu muncul. Satu Topik mengenai "Pesona Jiwa Raga" membuat malam yang sunyi menjadi "seru". Untaian kata yang hadir sangat begitu menginspirasi saya. Dinginnya suhu Puncak tak membuat semangat membaca menjadi lemah. justru menambah cita rasa dalam membaca. berikut kutipan sub bab mengenai "Pesona Jiwa Raga" 

Pada mulanya adalah fisik. Seterusnya adalah budi. Raga menantikan pandanganmu. Jiwa membangun simpatimu. Badan mengeluarkan gelombang magnetiknya. Jiwa meniupkan kebajikannya.

Begitulah cinta tersurat di langit kebenaran. Bahwa karena cinta jiwa harus selalu berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona itu: jiwa dan raga.

Tapi selalu ada bias disini. Ketika ketertarikan fisik disebut cinta tapi kemudian kandas ditengah jalan. Atau ketika cinta tulus pada kebajikan jiwa tak tumbuh berkembang sampai waktu yang lama. Bias dalam jiwa ini terjadi karena ia selalu merupakan senyawa spritualitas dan libido. Kebajikan jiwa merupakan udara yang memberi kita nafas kehidupan yang panjang. Tapi pesona fisik adalah sumbu yang senantiasa menyalakan hasrat asmara.

Biasnya adalah ketidakjujuran yang selalu mendorong kita memenangkan salah satunya: jiwa dan raga. Jangan pernah pakai “atau” disini. Pakailah “dan”: kata sambung yang menghubungkan dua pesona itu. Sebab kita diciptakan dengan fitrah yang menyenangi keindahan fisik. Tapi juga dengan fakta bahwa daya tahan pesona fisik kita ternyata sangat sementara. Lalu apakah yang akan dilakukan sepasang pecinta jika mereka berumur 70 tahun? Bicara. Hanya itu. Dan dua tubuh yang tidur berdampingan di atas ranjang yang sama hanya bisa saling memunggungi. Tanpa selera. Sebab tinggal bicara saja yang bisa mereka lakukan. Begitulah pesona jiwa perlahan menyeruak di antara lapisan-lapisan gelombang magnetik fisik: lalu menyatakan fakta yang tidak terbantahkan bahwa apa yang membuat dua manusia bisa tetap membangun sebuah jangka panjang sesungguhnya adalah kebijakan jiwa mereka bersama.

Seperempat abad lamanya Rasulullah saw hidup bersama Khadijah. Perempuan agung yang pernah mendapatkan titipan salam dari Allah lewat malaikat Jibril ini menyimpan keagungannya begitu apik pada gabungan yang sempurna antara pesona jiwa dan raganya. Dua kali menjanda dengan tiga anak sama sekali tidak mengurangi keindahan fisiknya. Tapi apa yang menarik dari kehidupannya mungkin bukan ketika akhirnya pemuda terhormat, Muhammad bin Abdullah, menerima uluran cintanya. Yang lebih menarik dari itu semua adalah fakta bahwa Rasulullah saw sama sekali tidak pernah berpikir memadu Khadijah dengan perempuan lain. Bahkan ketika Khadijah wafat, Rasulullah saw hampir memutuskan untuk tidak akan menikah lagi.

Bukan cuma itu. Bahkan ketika akhirnya menikah setelah wafatnya Khadijah, dengan janda dan gadis, beliau tetap berkeyakinan bahwa Khadijah tetap tidak tergantikan. “Allah tetap tidak menggantikan Khadijah dengan seseorang yang lebih baik darinya,“ kata Rasulullah saw.

Terlalu agung mungkin. Tapi memang begitu ia ditakdirkan: menjadi cahaya keagungan yang menerangi jalan para pecinta sepanjang hidup. Pengalaman di sekitar kita barangkali justru selalu tidak sempurna. Karena biasanya selalu hanya ada “atau” bukan “dan” dalam pesona kita. Atau bahkan tidak ada “dan” apalagi “atau”. Ketika pesona terbelah seperti itu, cinta pasti berada di persimpangan jalan, selamanya diterpa cobaan, seperti virus yang menggerogoti tubuh kita. Dalam keadaan begitu penderitaan kadang tampak seperti buaya yang menanti mangsa dalam diam.

Anis Matta

Puncak, Bogor, 16 November 2013 | @RandaBola

Selasa, 22 Oktober 2013

Sepotong Hati Yang Baru (Cerpen)

Kamis, 17 Oktober 2013 merupakan salah satu hari yang berkesan di bulan Oktober. Hari itu ada sebuah kegiatan Talkshow Inspiratif Bersama Penulis Terkemuka Nasional, DARWIS "TERE LIYE".

Di malam sebelumnya, saya ditelpon oleh Penyelenggara kegiatan untuk menjadi Host di kegiatan itu. Namun karena saya sudah memiliki jadwal untuk bertemu dokter di waktu yang bersamaan, akhirnya saya menolak tawaran menjadi Host.

Jam 15.00 Wib acara inti dimulai, dan saya masuk ke ruangan. Ketika saya melihat tema yang disampaikan oleh Bang Darwis, saya terbelalak. Seru juga ternyata tema ini. "Sepotong Hati Yang Baru". Opening materinya dimulai dari Quiz tentang kegalauan anak zaman sekarang. Kelihatan bahwa para peserta memang merupakan "galauers". :D

Jam 16.30 saya mendapat kabar bahwa Dokter yang akan saya temui tidak praktek, akhirnya saya bisa mengikuti acara ini sampai selesai.

Sesuai dengan tema umum acara ini yaitu ''Amazing October", saya benar-benar merasakan Amazing tersebut. Dimulai dari materi yang kocak dan "wow" hingga kepribadian Bang Darwis yang simpel, tapi asik-asik jos banget. Hehehe

Setelah kegiatan selesai, saya jadi ingin membaca novel Sepotong Hati Yang Baru tersebut. Ingin membeli, tapi dompet menipis. Namun pertolongan Allah memang dekat. Dan akhirnya, Kemarin (20 Oktober) saya mendapatkan buku itu. Walaupun cuma pinjaman dari orang. :)

berikut penggalan Cerpen mengenai "Sepotong Hati Yang Baru"

----------------------------------------------------------------

SEPOTONG HATI YANG BARU

Aku menghela nafas perlahan, bertanya perlahan, berusaha memutus suasana canggung lima menit terakhir, “Apa kau baik-baik saja?”

Alysa mengangkat kepalanya, mengangguk.

“Apa kau baik-baik saja,” Alysa balik bertanya pelan.

Aku tertawa getir. Menggeleng.

Diam sejenak. Sungguh hatiku tidak baik-baik saja.

Bulan purnama menggantung di angkasa. Senyap? Sebenarnya tidak juga. Suara debur ombak menghantam cadas di bawah sana terdengar berirama. Tetapi pembicaraan ini membuat sepi banyak hal. Hatiku. Mungkin juga hati Alysa. Rumah makan yang terletak persis di jurang pantai eksotis ini tidak ramai. Hanya terlihat satu dua pengunjung, membawa keluarga mereka makan malam. Bukan musim liburan, jadi sepi. Kami duduk berhadapan di meja paling pinggir. Menyimak selimut gelap lautan di kejauhan.

“Maafkan aku.” Alysa menggigit bibir. Tertunduk lagi.

Aku menatap wajahnya lamat-lamat.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah berlalu. Tertinggal jauh di belakang.” Aku menelan ludah. Berusaha menjawab bijak—aku tahu itu bohong, pura-pura bijaksana.

Hening lagi sejenak.

”Sungguh maafkan aku,” Alysa menyeka sudut-sudut matanya, ”Aku tidak pernah tahu akan seperti ini jadinya.”

Aku menggeleng, “Kau tidak harus minta maaf, meskipun seharusnya kau tahu, sehari setelah kau memutuskan pergi, aku lelah membujuk hatiku agar tegar, tetapi percuma. Menyakitkan. Semua itu membuat sesak. Kalimat itu mungkin benar, ada seseorang dalam hidupmu yang ketika ia pergi, maka ia juga membawa sepotong hatimu. Alysa, kau pergi. Dan kau bahkan membawa lebih dari separuh hatiku.”

Ombak menghantam cadas semakin kencang. Bulan purnama di atas sana membuat lautan malam ini pasang. Lautan yang kosong sepanjang mata memandang, menyisakan kerlip kapal nelayan atau entahlah di kejauahan. Jemari Alysa terlihat sedikit gemetar memainkan sendok-garpu.

“Kau tahu, aku melalui minggu-minggu menyedihkan itu. Dan yang lebih membuat semuanya terasa menyedihkan, aku tidak pernah mengerti mengapa kau pergi. Sesungguhnya aku tidak pernah yakin atas segalanya, aku tidak pernah baik-baik saja. Enam bulan berlalu, hanya berkutat mengenangmu. Mendendang lagu-lagu patah-hati, membaca buku-buku patah-hati. Hidupku jalan di tempat.”

“Maafkan aku.” Suara Alysa bahkan kalah dengan desau angin, matanya mulai basah menahan tangis.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Aku mendongak keluar, menatap purnama. Berusaha mengusir rasa sesak yang tiba-tiba menyelimuti hati. Sudahlah. Buat apa diingat lagi. Kemudian kembali menatap wajah Alysa, tersenyum, “Kau tahu, di tengah semua kesedihan itu, setidaknya saat itu aku akhirnya menyadari, aku tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup dengan hati yang hanya tersisa separuh. Tidak bisa. Hati itu sudah rusak, tidak utuh lagi. Maka aku memutuskan membuat hati yang baru. Ya, hati yang benar-benar baru.”

Hening lagi sejenak.

Alysa mengangkat kepalanya, bertanya ragu-ragu, cemas, “Apakah di hati yang baru itu masih tersisa namaku?”

***

Setahun silam. Di tempat yang sama.

Bedanya tidak ada kesedihan di sana. Aku mengeluarkan kotak cincin batu bulan itu.

“Aku tahu ini bukan permata.” Tersenyum, “Hanya cincin sederhana, berhiaskan batu bulan, simbol tanggal kelahiranmu. Apakah kau suka?”

Alysa mengangguk-angguk. Tersenyum amat lebarnya. Menjulurkan tangannya. Dia mencoba memasangkan cincin tersebut. Sumringah menatap wajahku,

“Itu akan menjadi cincin pernikahan kita.”

Kalimat itu meluncur begitu saja. Aku lupa kalau selama sebulan terakhir merencanakan banyak hal. Menyiapkan prolog dan kalimat pembuka yang indah. Malam itu, menatap wajahnya, kalimat itu meluncur begitu saja.

Alysa menatapku. Matanya membulat. Mukanya memerah. Tersenyum. Kemudian tersipu mengangguk. Sungguh, malam itu berubah seperti ada seribu kembang api yang meluncur menghias angkasa. Hatiku menyala oleh rasa bahagia. Keramaian rumah makan tepi jurang lautan terasa bingar, orang-orang yang menghabiskan makanan di atas meja.

Malam itu. Setahun silam.

Dan semua mulai dikerjakan. Keluarga saling bertemu, tanggal pernikahan ditentukan, kartu undangan disebar, hal-hal kecil diselesaikan, semua berjalan begitu lancar.

Tetapi pernahkah kalian menyimak film-film. Yang ketika pasangan itu siap menikah beberapa hari lagi, salah-satu pemerannya entah kenapa bertemu dengan seseorang—biasanya seseorang itu calon mempelai perempuan. Seseorang yang terlihat begitu sempurna. Seseorang yang mengambil segalanya. Ketika kalian menonton film itu, bahkan kalian tega membela perasaan yang baru muncul di hati jagoan wanitanya. Tega berharap agar pernikahan itu tidak jadi. Berharap calon mempelai perempuan berhasil mendapatkan seseorang yang tiba-tiba muncul, amat memesona itu. Berharap cinta hebat yang tumbuh mendadak yang menang, membenarkan alasan si calon mempelai perempuan. Akui sajalah, kita selalu membela cinta model ini.

Itulah yang terjadi denganku. Persis lima hari sebelum kami menikah, Alysa bertemu dengan pria gagah itu. Dalam sebuah pertemuan yang mengesankan. Aku tidak peduli di mana, kapan, dan entahlah pertemuan itu terjadi. Tidak peduli. Sama tidak pedulinya siapa sesungguhnya pemuda itu. Yang pasti dia meremukkan seluruh kenangan indahku bersama Alysa. Menghancurkan kedekatan kami , keluarga kami, dan sebagainya dengan lima hari pertemuan. Ya Tuhan, bagaimana mungkin hal seperti ini terjadi?

Sungguh lelucon cinta yang tidak lucu.

”Maafkan aku.” Alysa berkata pelan, ”Aku, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Astaga? Setelah bilang dia tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kami, Alysa juga tidak tahu apa yang sedang terjadi? Ini bencana besar, jika tidak baginya, tapi setidaknya bagi dua keluarga yang sudah menyiapkan banyak hal.

”Aku, aku mencintainya.” Alysa menghela nafas, ”Kau tahu, akan terasa, akan terasa menyakitkan kalau kita tetap menikah dengan kenyataan aku mencintainya.”

Ya Tuhan? Dia mencintainya hanya dengan pertemuan lima hari?

”Maafkan aku….” Suara Alysa bergetar, ”Kau tahu, itu seperti cinta pertama pada pandangan pertama. Aku, aku pikir semua rencana pernikahan kita keliru.”

Debur ombak menghantam cadas terdengar bagai lagu penuh kesedihan. Bukan, bukan karena semua ini tidak aku mengerti yang membuatku sakit hati. Bukan karena tiba-tiba, bukan kenapa harus terjadi lima hari sebelum pernikahan kami. Aku juga tidak mampu membenci pria itu. Apa salahnya? Aku tahu, selalu ada bagian yang tidak masuk akal dalam perjalanan cinta. Tetapi lebih karena, lihatlah, percakapan ini, aku tahu persis, separuh hatiku akan pergi. Persis seperti sebuah daun berbentuk hati, diiris paksa oleh belati tajam, dipotong dua. Aku sama sekali tidak bisa mencegahnya.

Alysa membatalkan pernikahan, begitu saja. Pakaian pengantin dikembalikan, gedung yang disewa dibatalkan, katering yang disiapkan diurungkan. Menyisakan pertanyaan-pertanyaan teman, malu di wajah keluarga, menyisakan itu semua. Itu sungguh masa-masa yang sulit.

“Kita tidak berjodoh. Maafkan aku.” Dan Alysa pergi malam itu. Di tempat yang sama ketika aku memperlihatkan cincin batu bulan itu kepadanya.

***

Aku menghela nafas perlahan, bertanya perlahan, berusaha memutus suasana canggung lima menit terakhir, “Apa kau baik-baik saja?”

Alysa mengangkat kepalanya, mengangguk.

Hening sejenak. Lebih banyak kesunyian menggantung di langit-langit rumah makan. Malam pertemuan kesekian kalinya aku dengan Alysa, malam ini, malam sekarang.

“Apakah, apakah di hati yang baru itu masih tersisa namaku.” Alysa ragu-ragu bertanya lagi, dengan suara yang semakin pelan dan semakin cemas.

Aku terdiam. Mengusap wajah kebas.

Ombak semakin kencang menghantam cadas. Berdebur.

Aku sungguh tidak menduga, setelah setahun berhasil pergi dari segala kesedihan itu. Susah-payah menyingkirkan kenangan lama yang selalu menelusuk di malam-malam senyap. Alysa mendadak kembali. Meneleponku dengan suara tersendat. Meminta kami bertemu malam ini.

Dan aku sungguh tidak mengerti mengapa aku harus menemuinya. Semua itu sudah selesai. Bangunan hubungan kami sudah hancur berkeping-keping, bahkan jejak pondasinya pun tidak ada lagi. Hanyut tercerabut setahun silam. Tetapi aku toh tetap menemuinya. Di tempat pertama kali aku mengenalnya. Di tempat dia membatalkan begitu saja rencana pernikahan kami. Di tempat kenangan kami

Alysa datang mengenakan gaun putih. Syal hijau. Matanya sembab, wajahnya sendu. Dan terisak perlahan setelah setengah jam berlalu. Alysa menceritakan banyak hal. Meski lebih banyak menahan tangis. Aku hanya diam. Dulu, setiap melihatnya menangis, aku pasti seolah ikut menangis. Bergegas berusaha menghiburnya, melucu, memberikan kata-kata motivasi, apa saja.

Malam ini, aku hanya menatap kosong ke arah lautan. Menyerahkan sapu-tangan. Lantas diam.

Apa yang harus kulakukan? Apa yang Alysa harapkan?

Ketika hati itu terkoyak separuhnya setahun lalu, aku sudah bersumpah untuk menguburnya dalam-dalam. Berjanji berdamai meski tak akan pernah kuasa melupakan. Malam ini saat Alysa bilang hubungan hebatnya dengan pria memesona itu gagal, aku sungguh tidak tahu apa yang harus kulakukan. Apa aku harus senang? Sedih? Marah? Tidak peduli? Ya Tuhan, ini semua sungguh menyakitkan.

“Apakah di hati yang baru itu masih tersisa namaku.” Alysa bertanya lagi, kali ini seperti bertanya kosong.

Aku hanya diam. Lihatlah, Alysa dicampakkan begitu saja. Itu menurut pengakuannya. Apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak tahu. Sama tidak tahunya kenapa dia dulu tiba-tiba merasa begitu jatuh cinta dan tega membatalkan pernikahan kami. Itu bukan urusanku.

“Apakah, apakah di hati yang baru itu masih tersisa namaku.” Suara Alysa kalah oleh desau angin. Tertunduk.

Aku menggigit bibir, menggeleng, “Kau tahu, saat itu aku akhirnya menyadari, aku tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup dengan hati yang hanya tersisa separuh. Tidak bisa. Hati itu sudah rusak, tidak utuh lagi. Maka aku memutuskan membuat hati yang baru. Ya, hati yang benar-benar baru.”

Alysa memberanikan diri mengangkat wajahnya, cemas mendengar intonasi suaraku.

“Maafkan aku Alysa, aku sudah menikah. Bukan dengan seseorang yang amat aku cintai, aku inginkan. Tetapi setidaknya ia bisa memberikanku sepotong hati yang baru. Maafkan aku. Kau lihat. Ini cincin pernikahan kami, batu giok.” Aku menelan ludah.

Hening sejenak. Alysa mematung.

Aku mengangkat bahu.

Alysa menyeka ujung-ujung matanya. Mengangguk pelan. Ia tahu persis itu simbol batu tanggal kelahiranku. Malam ini semua sungguh terasa menyesakkan. Gadis itu beringsut berdiri dari tempat duduknya, beranjak pergi. Aku menatap punggungnya hilang dari balik pintu rumah makan.

Maafkan aku Alysa, aku berbisik pelan menatap selimut gelap lautan. Melepas cincin itu. Ini bukan cincin milikku. Ini kepunyaan adikku–yang juga menyukai batu giok. Ada gunanya juga memutuskan mengenakan cincin ini sebelum bertemu dengan Alysa. Aku belum menikah. Aku selalu mengharapkan kau kembali. Selalu. Hingga detik ini. Bahkan minggu-minggu pertama kau pergi aku tega berharap dan berdoa Tuhan menakdirkan pria itu bernasib malang.

Tetapi malam ini, ketika melihat wajah sendumu, mata sembabmu, semua cerita tidak masuk akal itu, aku baru menyadari, cinta bukan sekadar soal memaafkan. Cinta bukan sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna.

Jika kau memahami cinta adalah perasaan irrasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apapun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih, tidak kurang.

Kenangan indah bersamamu akan kembali memenuhi hari-hariku entah hingga kapan. Itu benar. Membuatku sesak. Tapi aku tidak akan membiarkan hidupku kembali dipenuhi harapan hidup bersamamu. Sudah cukup.  Biarlah sakit hati ini menemani hari-hariku.

Biarlah aku menelannya bulat-bulat sambil sempurna menumbuhkan hati yang baru, memperbaiki banyak hal, memperbaiki diri sendiri. Apa pepatah bilang? Ah iya, patah hati tapi tetap sombong, patah-hati tapi tetap keren



Begitulah Cinta. Karena Cinta bukan merupakan perasaan irrasional, maka tak selamanya kita harus memaksakan rasa yang kita miliki :)
@RandaBola - FKIP Matematika Untan 2011