Tampilkan postingan dengan label RandaBola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RandaBola. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Januari 2016

Napak Tilas 2015 (PART 1) – FM 2015

Opening
Football Manager 2015 atau yang disingkat FM 2015 adalah sebuah game dimana player akan menjadi seorang manager klub sepakbola atauapun tim nasional. Dari FM 2011, 2012, 2013, 2014, hingga 2015, saya tak pernah sekalipun absen dalam bermain game yang konon kabarnya merupakan game dengan database tersebesar mengenai sepakbola di seluruh dunia. Termasuk sepakbola Indonesia.

Di FM 2015 ini saya memutuskan untuk melatih klub AFC BOURNEMOUTH. Mengapa? Karena waktu itu Bournemouth sedang menjadi pembicaraan banyak pengamat sepakbola berkat penampilan heroiknya di divisi Championsip hingga pada akhirnya berhasil promosi ke EPL untuk pertama kalinya. Penampilan menyerang nan atraktif yang diperagakan anak asuh Eddie Howe membuat saya tertantang untuk melatih Bournemouth.


Trophy Selama Menangani Bournemouth
Di tahun pertama melatih, titel juara divisi Championship + Runner up piala FA berhasil saya raih bersama Callum Wilson, dkk. Setelahnya Bournemouth promosi ke EPL seperti halnya yang terjadi di dunia nyata. Musim perdana di EPL, saya hanya bisa memberikan 1 trophy piala FA + Runner-up EPL + Runner-up­ Piala Carling kepada Bournemouth. Berkat posisi Runner-up EPL, otomatis Bournemouth akan mengikuti Liga Champions di musim depan. Amazing ! (akankah Leicester City musim ini di dunia nyata juga mengikuti hal yang serupa? No one knows until end of the season).
Runner-Up EPL musim 2016/2017
Formation & Tactics
Berbicara tentang Tactics, tentunya setiap pelatih memiliki Tactics sesuai filosofinya masing-masing. Sejak FM 2011 hingga 2015, saya selalu menerapkan filososfi permainan total football, tak peduli berapa gol kita kebobolan selama kita bisa mencetak lebih banyak 1 gol, maka kita akan menang.

Pakem formasi 4-3-3 yang bisa bertransformasi menjadi 4-2-3-1 adalah formasi dasar dalam saya membangun tim. Namun sayangnya tim Bournemouth tidak memiliki pemain-pemain yang sesuai dengan pakem formasi dasar tersebut. Saya pun harus meracik ulang bentuk formasi yang tepat sesuai dengan kualitas pemain Bournemouth. Formasi tradisional 4-3-1-2 pun akhirnya menjadi pilihan. Formasi ini juga seakan menjadi antitesa bagi formasi 4-2-3-1 yang seringkali digunakan oleh tim-tim besar seperti Arsenal, Chelsea, Manchester City, hingga Real Madrid. Dengan menumpuk 3 gelandang di lini tengah + 1 gelandang serang yang seringkali ikut membantu pertahanan membuat lini tengah selalu dikuasai oleh tim saya.
Bentuk Dasar Formasi 4-3-1-2
Filosofi total football menuntut tim saya harus lebih menguasai permainan ketimbang tim lawan. Dan lini tengah adalah kunci dari itu. Maka 3 gelandang sentral yang memiliki fungsi yang berbeda-beda. 1 sebagai Ball Winning Midfield, 1 sebagai Deep Lying Playmaker, dan 1 sebagai Advanced Playmaker adalah role yang saya terapkan kepada 3 gelandang sentral tersebut. Sementara 1 Gelandang serang di tengah saya berikan ia role sebagai Attacking Midfield.

Untuk 2 penyerang di depan, saya memberikan tugas yang berbeda. 1 sebagai Deep Lying Forward, dan 1 lainnya sebagai Poacher. Kombinasi ini saling melengkapi dimana seorang Deep Lying Forward selain mencetak goal, juga bertugas untuk menjemput bola ke lini tengah dan berkreativitas dalam mengatur serangan bersama Attacking Midfielder. Sedangkan sang Poacher akan menari-nari di kotak penalti untuk mencari ruang kosong.

Permainan total football yang saya terapkan juga mengharuskan 11 pemain saya ikut bermain di lapangan. Dan serangan harus dimulai dari area bawah. Oleh karenanya role Sweeper Keeper saya berikan kepada penjaga gawang saya. Dimana role tersebut membuat penjaga gawang saya tidak hanya bertugas dalam bertahan, namun juga ikut berada di dalam permainan ketika tim menguasai bola.

Untuk lini belakang, 2 bek tengah saya berikan role yang berbeda. 1 sebagai Central Defender, dan 1 lagi sebagai Ball Playing Defender. Seperti halnya Barcelona dimana Pique sebagai Ball Lying Defender dan Puyol sebagai Central Defender. Sedangkan 2 bek sayap, saya berikan role sebagai Wing Back. Mengingat dalam formasi 4-3-1-2 pemain tengah dan depan akan menumpuk di tengah, maka solusi untuk bermain melebar akan dibebankan kepada 2 bek sayap ini. Tak jarang gol demi gol yang tercipta merupakan hasil kreasi darikedua bek sayap saya baik itu mengkonversi terjadinya gol ataupun mencetak gol.
Peran Setiap Pemain dalam Formasi 4-3-1-2
Selain formasi 4-3-1-2, saya juga menerapkan formasi favorit saya yaitu 4-2-3-1 yang berfungsi menjadi wildcard dalam beberapa match tertentu. Karena setiap sebelum pertandingan, Scout akan melaporkan gambaran tactics tim lawan beserta kekuatan timnya, sehingga kita bisa mengetahui gambaran kekuatan tim lawan. Hal tesebut juga berlaku bagi tim lawan yang juga mengetahui kekuatan tim kita. Sehingga terkadang saya akan membaca formasi lawan terlebih dahulu baru memututskan apakah formasi 4-3-1-2 atau 4-2-3-1 yang akan saya pakai. Walaupun lebih seringnya formasi 4-3-1-2 yang menjadi pilihan saya.
Peran Setiap Pemain dalam Formasi 4-2-3-1

The Winning Team
Selama 2 musim menukangi Bournemouth, saya memiliki the winning team yang pada akhirnya berhasil meraih trophy piala FA serta menjadi Runner-up EPL. Berikut akan saya ulas satu per satu pemain kunci yang menjadi pilihan utama saya dengan formasi 4-3-1-2.

Goalkeeper – Jeronimo Rulli
Kiper 21 tahun asal Argentina yang membela klub Real Sociedad ini bisa dikatakan menjadi pemain paling krusial di tim saya. Entah berapa penyelamatan yang telah dibuat olehnya. Jika saja bukan Rulli kipernya, mungkin Bournemouth tak akan mampu menembus posisi 2 EPL dan juara Piala FA. He is a wonderful Goalkeeper. FYI, di dunia nyata Rulli sudah menjadi buruan tim-tim besar seperti Barcelona dan Manchester City. Melihat penampilan Joe Hart yang kadang kurang stabil, bukan tak mungkin Rulli akan berkostum biru langit di musim depan. #RulliSaver

Right Wing Back – Ruben Neves

He is a good leader in a team ! Awalnya saya mendatangkan Ruben Neves untuk mengisi posisi lini tengah Bournemouth sesuai dengan posisi aslinya yang merupakan seorang defensive midfielder. Namun kala itu wing back kanan saya Andre Wisdom mengalami cedera dan pelapisnya Sam Byram tampil tidak konsisten, sehingga Ruben Neves yang merupakan seorang Versatile player saya tempatkan di posisi wing back kanan. Hasilnya sangat memuaskan. Kemampuan Ruben Neves baik dalam bertahan dan menyerang sama baiknya. Bahkan tak jarang gol demi gol berawal dari pergerakan pemain ini. FYI, Ruben Neves yang baru berusia 18 tahun merupakan Kapten klub Porto dan baru saja mencetak rekor sebagai pemain termuda yang pernah menjabat sebagai Kapten di Liga Champions. Pun sama halnya di FM 2015 saya memberikan kepercayaan kepada Neves untuk mempimpin tim melihat determinasi dan leadershipnya yang sangat tinggi dibandingkan pemain – pemain lain. Di usianya yang begitu muda ia sudah mendapat panggilan dari timnas portugal. Dan klub – klub besar seperti Arsenal, Chelsea, Liverpool hingga West Ham sudah mengajukan penawaran kepada Porto untuk memboyong pemain masa depan Portugal ini. #NevesFutureLeader

Central Defender – Niklas Sule

Kuat, Cepat, Tanpa Kompromi. Ketiga karakter itu mencerminkan gaya bermain bek yang baru berusia 20 tahun ini. Status Man Of The Match pernah beberapa kali diarih olehnya. Sule memiliki skill yang begitu sempurna. Ia cepat, jago duel udara, dan bersih dalam melakukan tekel. FYI, di dunia nyata Arsenal berada di baris terdepan untuk mendapatkan tanda tangan bek asal Jerman ini.

Ball Playing Defender – Allesio Romagnoli

Sebelum Romagnoli dibeli AC Milan dari AS Roma seharga 25 Juta Euro musim ini, di FM 2015 Romagnoli sudah berhasil saya amankan di klub saya. Dalam usianya yang masih muda, Romagnoli memang merupakan bek penuh bakat yang dimiliki oleh Italia. Bahkan di FM 2015 ini Romagnoli pernah ditawar oleh Atletico Madrid seharga 35 Juta Euro, namun saya tolak. Hehehe. #TheBallPlaying


Left Wing Back – Jonathan Silva

Bek yang memiliki naluri menyerang tinggi + merupakan eksekutor bola mati terdapat di dalam diri pemain Sporting Lisbon asal Argentina yang berusia 21 tahun ini. Pemain ini bertipikal sama seperti Baines. Di dunia nyata, kabarnya Napoli dan Dortmund sangat getol ingin mendatangkan pemain ini. FYI, awalnya saya mengincar bek Valencia, Jose Gaya. Namun Chelsea berhasil memenangi perburuan tersebut sehingga saya membidik Silva sebagai alternatifnya. #AFlyingWings

Deep Lying Playmaker – Lewis Cook

Lewis Cook mungkin akan terasa asing bagi para penikmat sepakbola, karena pemain ini berasal dari klub Leeds United yang notabene bermain di divisi Championship liga Inggris. Namun pemain yang satu ini memiliki bakat yang begitu besar. Pemain yang baru berusia 18 tahun ini merupakan pilihan utama saya dalam menempati posisi deep lying playmaker. Role permainannya di dalam tim kurang lebih mirip dengan apa yang dijalankan oleh Matic di Chelsea ataupun Busquets di Barcelona. Ia menjadi penghubung antara lini belakang dan tengah serta menjadi tameng bagi keempat bek di belakang. Ia memang jarang mencetak gol. Namun sentuhan demi sentuhannya sangat menentukan dalam organisasi permainan tim. Di game ini, Manchester United sudah 2 kali mengajukan penawaran untuk Lewis Cook. Seperti biasa, saya belum siap untuk melepasnya. :D #DeepLyingCook

Ball Winning Midfield – Pierre Hojbjerg

Jika Manchester United memiliki Paul Scholes, maka Bournemouth versi saya memiliki seorang Hojbjerg (menyebutkan namanya susah sekali -__-). Pemain berusia 20 tahun yang saya datangkan dari Bayern Muenchen ini adalah seorang Regista yang memiliki kemampuan determination, passing, long shoot, tackling, aggresion sama baiknya. Kemampuan jelajahnya yang tinggi membuatnya terkadang menjalani peran sebagai Box to Box Midfielder. Jika ia berada dalam kondisi yang fit, maka satu tempat garansi akan saya berikan untuknya. Ia merupakan pemain yang paling sering melakukan intercept dan tackling di lini tengah. Melihatnya bermain seakan menyaksikan seorang Coquelin di Arsenal. #ScholesHojbjerg

Advanced Playmaker – Youri Tielemans

Jujur saja saya bingung untuk menentukan siapa yang lebih prioritas menjadi pilihan utama saya antara Youri Tielemans ataupun Will Hughes. Kedua pemain ini bertipikal sama, yaitu seorang advanced playmaker. Keduanya memiliki kemampuan passing mumpuni serta visi bermain diatas rata-rata. Jika Lewis Cook bermain lebih kebawah untuk menghubungkan antara lini belakang dan tengah, maka peran Tielemans ataupun Hughes adalah menjembatani lini tengah ke lini depan. Satu kelebihan Tielemans dibandingkan hughes ialah kemampuan bertahannya yang lumayan baik. Di dunia nyata, Manchester United sudah terdengar sangat serius meminati pemain berusia 20 tahun asal Belgia yang saat ini berkostum Anderlecht. #DeterminationTielemans

Attacking Midfield – Thorgan Hazard

Honestly, Eden Hazard merupakan pemain favorit saya di dunia nyata sepanjang musim 2014/2015. Bahkan dalam bermain futsal pun saya sering kali menempati wilayah kiri dengan gaya bermain layaknya seorang inverted winger berkat inspirasi darri seorang Eden Hazard. Namun apa daya ketika menukangi Bournemouth, adalah sebuah kemustahilan bisa mendatangkan seorang Eden Hazard dari Chelsea. Alhasil, saya mencoba mendatangkan Thorgan Hazard yang merupakan adik kandung dari Eden Hazard sebagai antitesanya. Hasilnya sangat brilliant ! Sang adik memiliki kualitas bermain yang tak kalah ciamik dengan abangnya. Jika sang abang lebih kepada seorang winger, maka sang adik merupakan seorang playmaker tradisional yang memiliki kualitas mengagumkan. 2 tahun posisinya tak tergantikan di lini tengah. Bahkan sang pelapisnya yaitu Alen Halilovic tak cukup kuat untuk menggusur posisinya. #TheNewHazard

Deep Lying Forward – Ricardo Kishna

Tau gelar European Golden Boy? Pemain – pemain seperti Balotelli, Goetze, Isco, dan Pogba pernah mendapatkan nominasi bergengsi ini. Dan Kishna dibawah asuhan saya juga berhasil mensejajarkan dirinya bersama keempat pemain fenomenal tersebut. Awalnya saya tak mengira bahwa Kishna akan meraih nominasi itu. Namun melihat usianya yang masih sangat muda dengan statistik dalam urusan assists dan gol, Kishna pantas mendapatkan nominasi itu.



 European Golden Boy Awards

Berperan sebagai seorang Deep Lying Forward, Kishna bertugas menjemput bola lebih ke bawah dan berperan dalam mengatur serangan bersama Thorgan Hazard. Meskipun begitu, tak jarang pula ia berhasil mencatatkan nama dirinya ke papan skor. FYI, di dunia nyata Kishna baru saja didatangkan oleh Lazio dari Ajax Amsterdam. #TheGoldenBoy

Poacher – Callum Wilson

Callum Wilson adalah satu-satunya pemain asli Bournemouth yang berhasil mendapatkan tempat di hati saya. Ia menjadi top skor klub + pemain terfavorit pilihan fans selama 2 musim berturut-turut. Keganasannya di kotak 16 seperti seorang Lewandowski di Bayern Muenchen. Dan ia memiliki kecepatan layaknya seorang Sergio Aguero. Berkat penampilan heroiknya bersama Bournemouth, Wilson berhasil dipanggil oleh timnas Inggris. Mengagumkan bukan? Dan di dunia nyata kita bisa melihat potensi besar dari pemain ini. Di awal musim, ia berhasil menggelontorkan gol demi gol untuk Bounemouth. Namun sayang, setelahnya ia menimpa cedera panjang yang membuat ia terancam absen hingga akhir musim. #TheFoxInTheBox
Pemain Favorit Pilihan Fans


Best Match
Berikut saya cantumkan beberapa match terbaik saya ketika menukangi Bournemouth selama tahun 2015.
Bournemouth vs Chelsea

Bournemouth vs Chelsea

Bournemouth vs Everton


“ Sebagai penutup, dari pemain-pemain pilihan saya di tim ini sudah jelas tergambar bahwa saya membangun Bournemouth dengan sejumlah pemain – pemain muda (bahkan kapten timnya seorang pemuda 18 tahun, Ruben Neves) berbekal filosofi permainan total football. Saya belum bisa memastikan bagaimana kelanjutan perjalan karier di FM 2016. Apakah akan kembali menangani Bournemouth atau mencoba tantangan baru di klub lainnya. Honestly, jika saja kondisi persepakbolaan Indonesia di tahun 2016 ini sudah kembali berjalan normal, saya tertantang untuk melatih klub Indonesia dan bermain dalam lingkup Asia. Untuk klubnya saya belum tau akan melatih di klub mana. Entah itu Persib, Bali United, atau mungkin Persipon. Goodbye FM 2015. Thank you for your beautiful memories and Welcome FM 2016.

2 Januari 2015 - Kota Khatulistiwa - @Randabola

Kamis, 09 Juli 2015

Mengenal Sang Pendatang Baru, AFC BORNEMOUTH !

The New Comers !

Musim 2015/2016 Premier League akan menjadi sebuah musim yang begitu spesial, karena ada 1 tim promosi dari divisi Championship yang menjadi pembicaraan banyak kalangan, yaitu AFC Bornemouth.

Mari kita kenalan lebih jauh dengan klub yang memiliki julukan unik dari nama buah – buahan yaitu the cherries.

1. Promosi ke Premier League pada musim ini merupakan kali pertama bagi AFC Bornemouth sepanjang sejarah klub mereka berdiri sejak tahun 1899


2. 6 tahun yang lalu AFC Bornemouth masih berkecimpung di kasta keempat sepakbola liga inggris, yakni League Two. Namun dalam waktu yang tergolong sangat singkat itu, AFC Bornemouth melesat bagaikan permainan di game playstation dengan akhirnya berhasil bertengger di posisi puncak divisi Championship untuk promi ke Premier League.

Foto diambil dari situs Panditfootball.com

3.  Bornemouth promosi bukan karena permainan super defensif ataupun kemenangan yang “serba beruntung”, namun Bornemouth menampilkan permainan menyerang yang sangat atraktif sepanjang musim (statistik dapat dilihat di tabel). Karena permainan menyerang atraktif yang ditampilkan oleh anak asuhan Edie Howe ini, salah satu Legenda Sepakbola Inggris, Gary Lineker sampai berkata, “Bornemouth memainkan sepakbola yang tidak membosankan. Mereka akan memberikan warna baru di Premier League musim depan”. Suatu statement yang tentunya menarik untuk ditunggu – tunggu oleh para penikmat sepakbola liga inggris.

Foto diambil dari Wikipedia

4.  Dari 49 jumlah pemain yang terdaftar pada musim lalu, saya secara pribadi hanya mengenal 4 nama. Mereka adalah Ian Harte (pemain senior yang pernah merumput di Premier League), Dan Gosling (mantan pemain Newcastle United), Arthur Boruc (pemain pinjaman dari Southampton), dan Kenwyne Jones (pemain pinjaman dari Cardiff City). Jika 2 nama terakhir tidak dihitung dikarenakan hanya merupakan pemain pinjaman, maka hanya 2 nama familiar yang menghiasi skuad sang juara Championship yang akan promosi pada musim ini. Fantastis !

Foto diambil dari Wikipedia

5.  Sang Manajer Bornemouth, Eddie Howe baru berusia 37 tahun. Ia sempat menukangi Burnley sebelum pada akhirnya ia kembali dipercaya untuk menjadi pelatih Bornemouth hingga sekarang. Kemampuan Eddie Howe membuatnya mendapat julukan sebagai “The Special One from England”. Tentu di musim depan kita akan menikmati sajian yang menarik antara The Real Special One vs The Special One from England. Sebagai catatan, pada Mei 2015 kemarin, Eddie Howe berhasil mengalahkan Mourinho dalam perebutan gelar “Manager of The Year” dari League Managers Association atas prestasinya membawa Bornemouth menjuarai Championship.


Kelima catatan diatas tentunya tidak bisa dipandang sebelah mata oleh para penikmat Liga paling bergengsi di dunia, Premier League. Kehadiran tim promosi bernama AFC Bornemouth tentu tidak boleh dipandang sebelah mata oleh tim – tim lainnya. Apalagi sampai sejauh ini manajemen Bornemouth telah bergerak aktif dalam mendatangkan 3 pemain untuk melengkapi susunan pemainnya dalam mengarungi Premier League 2015/2016.

Selamat berjuang AFC Bornemouth, Good Luck The Special One from England !!

#SuperSoccerGoesToSingapore

@Randabola, 9 Juli 2015, Kota Khatulistiwa

Tantangan Darmian & Kegagalan Pemain Italia Di Liga Ingris

Siapakah sebenarnya Darmian? Dan apakah dia bakal sukses merumput di Liga Inggris bersama klub barunya Manchester United? Mari simak beberapa infromasi berikut ini.


Dalam 24 jam terakhir, Manchester United telah resmi mendapatkan seorang pemain baru asal Italia, Matteo Darmian. Harga transfer pemain yang merupakan binaan akademi AC Milan ini ditaksir mencapai €18 juta. Tentu kepindahan ini mengagetkan beberapa pihak mengingat sebelumnya Matteo Darmian hanya bermain di klub sekelas Torino.

Lalu mengapa Van Gaal mendatangkan pemain yang telah merasakan caps bersama timnas Italia ini?

Gambar diperoleh dari situs whoscored.com
Nama Matteo Darmian mulai melambung tinggi ketika musim 2012/2013 & 2013/2014. Kala itu bersama Cerci dan Immobille, Darmian membawa Torino tampil begitu memukau sehingga Torino bisa berkiprah di tingkat Eropa. Sayang bagi Darmian, dua partnernya saat itu Cerci dan Immobille harus hijrah ke Spanyol dan Jerman setelah dibeli oleh Atletico Madrid dan Borrusia Dortmund.

Berkat penampilan gemilangnya di liga Serie-A, Cesarre Prandelli memutuskan untuk membawa Darmian ke World Cup 2014. Dan kesempatan itu dijawab baik oleh Darmian dengan tampil selama 3 pertandingan di babak grup World Cup 2014.

Di bawah asuhan Giampiero ventura, Darmian ditempatkan sebagai wing back kanan dalam formasi 3-5-2. Namun terkadang ia juga bisa menempati posisi wing back kiri / full back kiri dalam formasi 4-4-2 seperti yang ia lakukan bersama timnas Italy di World Cup 2014.

Pada awal musim lalu Van Gaal sangat suka menerapkan formasi 3-5-2 ke dalam bentuk permainan Manchester United. Namun rentetan hasil buruk yang dialami oleh MU serta ketidakcocokan formasi 3-5-2 dengan para pemain MU membuat Van Gaal melakukan reformasi bentuk permainan ke 4-1-4-1 atau 4-4-1-1.

Kemampuan Darmian yang bisa beroperasi di bagian kanan maupun kiri serta adaptasinya baik pada formasi 3-5-2 maupun 4-4-2 inilah yang membuat Van Gaal kepincut untuk mendatangkannya. Apalagi jika pada musim lalu Van gaal seringkali membangkucadangkan Rafael Da Silva dan lebih memilih Antonio Valencia untuk menempati pos full back kanan ataupun wing back kanan. Kehadiran Darmian diyakini akan membuat lini tersebut menjadi begitu kuat karena sejatinya posisi asli dari Antonio Valencia adalah pemain sayap, bukan pemain belakang.

Statistik perbandingan antara Darmian, Rafael, dan Valencia yang dirilis oleh Whoscored semakin memperlihatkan betapa pentingnya keberadaan Matteo Darmian di theater of dreams.

Gambar diperoleh dari situs whoscored.com

Lalu apakah Darmian akan menuai sukses bersama The Red Devils?

Tunggu dulu. Mari simak beberapa perjalanan pemain asal Italia yang pernah merumput di Liga Inggris ini. Ada yang dicap gagal, namun ada pula yang menuai kesuksesan.

Mereka (pemain Italia) yang gagal di liga inggris :

1. Alberto Aquilani
Aquilani diboyong ke Anfield dari AS Roma pada musim panas 2009 dengan nilai transfer dikabarkan mencapai £17 juta oleh mantan manajer The Reds, Rafael Benitez. Namun sepanjang kariernya di Anfield, Aquilani hanya tampil kurang dari 28 pertandingan dengan mencetak dua gol. Pada musim berikutnya, Aquilani harus meninggalkan tanah Inggris dan kembali ke negeri asal, Italia.

2. Bernardo Corradi
Bergabung dengan Manchester City di awal musim 2006/07, mantan pemain timnas Italia itu gagal memasukkan memperlihatkan kontribusi yang baik. Ia hanya mencetak kurang dari tiga gol dalam 29 penampilan. Corradi akhirnya kembali dipinjamkan ke Parma pada tahun berikutnya sebelum bergabung ke Reggina pada Juli 2008 setelah kontraknya bersama The Citizens berakhir.

3. Andrea Dossena
Meski sempat mencetak goal pada pertandingan melawan Manchester United di old Trafford, Dossena yang tiba di Anfield pada musim panas 2008 dari Udinese gagal tampil konsisten. Ia hanya berkarir di Merseyside selama satu setengah tahun dengan tampil sebanyak 31 pertandingan dan mencetak dua gol. Dossena akhirnya kembali ke Italia pada Januari 2010 dan bergabung ke Serie A.


4. Marco Materazzi
Bergabung ke Everton dari Perugia pada musim 1998/99, Marco hanya tampil 12 kali untuk The Toffees dalam waktu satu musim, dan ia bahkan sempat empat kali dipinjamkan ke klub lain. Ia akhirnya kembali ke Perugia pada tahun berikutnya. Di sana ia tampil selama dua musim sebelum bergabung ke FC Internazionale pada 2001. 

5. Massimo Taibi
Massimo Taibi bergabung ke Manchester United pada musim panas 1999 dari klub Italia Venezia. Sayang, sang kiper gagal memenuhi ekspetasi dari Sir Alex ferguson. Ia hanya tampil empat kali dalam enam bulan di Old Trafford. Blunder yang dibuatnya saat imbang 3-3 dengan Southampton pada 1990 akan selalu diingat oleh fans setan merah.

Ada yang gagal, maka ada pula yang sukses. Berikut ini mereka (pemain Italia) yang sukses di liga inggris :

1.    Carlo Cudicini
Carlo Cudicini datang ke Stamford Bridge pada tahun 1999 dan memaksa kiper legendaris Chelsea, Ed De Goey harus merelakan tempatnya. Di tahun 2002 ia mendapat gelar Chelsea Player of The Year dan di tahun berikutnya ia didaulat menjadi kiper terbaik liga Inggris musim 2003/2004. Namun kedatangan manajer Jose Mourinho pada tahun berikutnya membuat Cudicini kehilangan tempatnya. Overall, karir Cudicini terbilang cukup sukses bersama The Blues.

2.    Gianluca Vialli
Datang ke Stamford Bridge dari Kota Turin pada musim panas 1996, Gianluca Vialli menorehkan sejumlah prestasi. Bersama The Blues, Vialli bermain sebanyak 58 laga dan mencetak 21 gol. Ia turut andil dengan membawa Chelsea meraih gelar FA Cup, Piala Liga dan Piala Winners dalam 3 tahun tersebut.

3.    Roberto Di Matteo
Roberto Di Matteo adalah orang Italia yang paling sukses berkarir di Inggris. Setidaknya 6 gelar bergengsi dipersembahkan Di Matteo untuk The Blues. Tidak hanya menjadi pemain, tapi Di Matteo juga sukses mempersembahkan trofi Liga Champions pertama untuk klub asal London tersebut pada musim 2012/2013 sebagai pelatih.

4.    Gianfranco Zola
Gianfranco Zola dinobatkan sebagai salah satu legenda Chelsea hingga saat ini. Nomer punggung 25 yang dipakainya pun saat ini masih dianggap keramat bagi The Blues. Dari 229 penampilannya, Zola menyumbang 59 gol dan 5 gelar bergengsi bagi The Blues.

Apakah Darmian akan mengikuti jejak Aquilani, Corradi, dan Massimo Taibi atau justru menjadi heroik dengan meneruskan catatan gemilang Cudicini, Di Matteo, serta Gianfranco Zola? Waktu lah yang akan menjawabnya.

Selamat berkontribusi Matteo Darmian !!

#SuperSoccerGoesToSingapore



@Randabola, 9 Juli 2015, Kota Khatulistiwa

"Jantung" Baru Arsenal

“if you took out Makelele from the team, so you took out the heart of their team

Kalimat diatas begitu familiar sejak beberapa tahun yang lalu ketika Los Galacticos (Julukan Real Madrid) waktu itu melakukan sebuah blunder besar dalam bursa transfer pemain.

Berkumpulnya sejumlah pemain bintang kelas dunia seperti Zidane, Figo, Beckham, Raul, dan Ronaldo membuat Real Madrid menjadi salah satu tim dengan lini serang paling wahid saat itu. Namun sayang, sebuah blunder yang diselimuti dengan kesombongan dilakukan oleh Manajemen El Real yang melepas “sang jantung” tim, Makelele ke Chelsea.

We will not miss him, his technique is average, he lacks speed and skill, his distribution goes backwards or sideways. New players will arrive to make us forget Makelele”.

Begitulah ucapan kesombongan yang dilontarkan oleh manajemen El Real waktu itu ketika memutuskan untuk melepas Makelele.

Sejak kepergian Makelele, Real Madrid harus menerima pil pahit dengan harus puasa gelar selama 3 tahun berturut – turut. Sedangkan Chelsea bisa bernari ria dengan berbagai trophy Premier League, Piala FA, maupun Piala Carling.

Lantas dimanakah kesalahan yang dilakukan oleh manajemen Real Madrid?

Seperti yang terdapat pada kalimat pembuka di artikel ini, “if you took out Makelele from the team, so you took out the heart of their team”. 

Manajemen El Real terlalu sibuk untuk mendatangkan mesin – mesin baru seperti Beckham maupun yang lainnya. Namun ketika mesin – mesin itu telah berkumpul lengkap untuk melakukan pekerjaannya, sang poros utama yaitu jantung, justru dilepas begitu saja. Ya, dalam permainan Real Madrid, peran Makelele sebagai holding midfielder merupakan peran sebagai jantung tim dimana peran tersebut merupakan peran yang sangat vital.

Kembali ke judul artikel ini, lalu apa hubungannya dengan Arsenal?

Sejak era Patrick Viera, Arsenal seakan kehilangan sosok Holding Midfielder yang bisa membawa trophy – trophy kembali menghiasi tim yang bermarkas di Emirates Stadium ini.


Nama Alex Song sempat menjadi pembicaraan publik. Namun sikap yang tidak baik kerap diperlihatkan oleh Song sehingga Wenger tak mau ambil pusing ketika Barcelona datang untuk membelinya.

Inkonsistensi penampilan sang kapten Mikel Arteta, ditambah badai cedera yang kerap menerpanya membuat Wenger kehilangan sosok sentral di posisi Holding Midfielder ini dalam beberapa tahun terakhir.

Pada bursa transfer musim panas tahun lalu, Wenger sempat dikritik atas kebijakan tarnsfernya yang justru tidak mendatangkan seorang pemain baru di posisi ini. Wenger memang sempat berkilah dengan alasan Callum Chambers yang didatangkan dari Southampton merupakan seorang pemain serba bisa yang juga dapat menempati posisi Holding Midfielder. Namun seiring dengan berjalannya musim baru 2014/2015, badai cedera menghampiri lini belakang Arsenal, yang membuat Wenger harus menempatkan Chambers di posisi aslinya yaitu sebagai defender.

Belum selesai badai cedera menerpa lini belakang Arsenal, lini tengah juga kembali dilanda badai yang sama. Badai cedera merupakan salah satu kelemahan besar yang selalu terjadi di Arsenal tiap tahunnya. Namun untuk kasus ini Wenger sepertinya gagal berbuat banyak dalam menemukan solusinya. Cederanya Arteta, Wilshere, dan Diaby membuat Flamini menjadi opsi tunggal di posisi ini. Tentu kita semua tau bagaimana penampilan Flamini yang sama halnya dengan Arteta, selalu mengalami inkonsistensi permainan.

Pada bursa transfer musim dingin tahun lalu, Schneiderlin saat itu santer dikabarkan akan bergabung dengan Meriam London. Tapi kegigihan Southampton untuk mempertahankan sang pemain kunci membuat Arsenal harus gigit jari.

Wenger tak memiliki opsi lain kecuali melakukan opsi terakhir yaitu memanggil kembali sang pemain pinjaman dari Charlton Athletic, Francis Coquelin. Singkat cerita, bergabunglah sang “anchorman” asal Perancis ini bersama meriam – meriam muda london lainnya.

Seakan menemukan cinta sejatinya, kepercayaan Wenger memberikan kesempatan kepada Coquelin dijawab dengan sangat baik olehnya. Coquelin memainkan perannya sebagai holding midfielder dengan begitu sempurna. Puncaknya ketika Arsenal berhasil mengalahkan Manchester City 2 – 0. Pergerakan Coquelin yang selalu tepat ketika melakukan recovery maupun interception, ditambah kekuatan tackelnya yang begitu kuat, membuat coquelin berhasil menjadi tembok bagi lini pertahanan Arsenal yang sulit untuk ditembus. Selain itu ia juga kerap menjadi penyambung antara lini belakang ke lini depan ketika Arsenal membangun serangan. Disinilah letak kesempuraan peran seorang Coquelin.

Sejak saat itu, Wenger mempercayakan sepenuhnya posisi ini kepada sosok “tak terduga” yang terpatri pada diri Coquelin.

(Gambar diperoleh dari situs Whoscored.com)
Keberhasilan Arsenal meraih posisi Runner Up di Premier League serta menjadi jawara Piala FA adalah bukti nyata dari kontribusi “peran penyeimbang” yang diberikan oleh Coquelin bagi lini bertahan dan lini menyerang Arsenal.

Six months ago I was at Charlton and today I’m winning the FA Cup. Football can go so quick and I’m really pleased to get this trophy. It was a big day in my career.”

Begitulah ucapan dari seorang pahlawan baru Arsenal yang mengalami perubahan hidup begitu cepat dalam 6 bulan terakhir.

Tanpa mengesampingkan peran heroik dari Alexis Sanchez serta kejeniusan Santi Cazorla sebagai jenderal lini tengah, peran Coquelin sebagai holding midfielder tentu juga memiliki dampak yang sangat besar bagi Arsenal di musim lalu. Dapat dibayangkan bagaimana keroposnya lini pertahanan Arsenal jika saja Coquelin tidak hadir pada interval kedua premier league musim lalu.

Untuk menghadapi musim baru 2015/2016, Arsene Wenger setidaknya bisa sedikit bersantai karena permasalahan keberadaan seorang holding midfielder sudah ada solusinya pada diri Coquelin. 

Keputusan manajemen Arsenal yang baru – baru ini untuk memperpanjang kontrak sang kapten tim, Mikael Arteta adalah keputusan yang sangat tepat. Selain sebagai pemimpin tim, tentu kehadiran Arteta membuat Coquelin bisa belajar lebih banyak dari sang kapten mengingat usia Coquelin yang masih tergolong muda.

'I want to be the next Patrick Vieira, merupakan suatu janji dari seorang Coquelin kepada dirinya maupun manajemen serta fans Arsenal.

Welcome the new heart of this team, Francis !!!

@Randabola, 9 Juli 2015, Kota Khatulistiwa

#SuperSoccerGoesToSingapore