Tampilkan postingan dengan label Super Soccer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Super Soccer. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juli 2015

"Jantung" Baru Arsenal

“if you took out Makelele from the team, so you took out the heart of their team”

Kalimat diatas begitu familiar sejak beberapa tahun yang lalu ketika Los Galacticos (Julukan Real Madrid) waktu itu melakukan sebuah blunder besar dalam bursa transfer pemain.

Berkumpulnya sejumlah pemain bintang kelas dunia seperti Zidane, Figo, Beckham, Raul, dan Ronaldo membuat Real Madrid menjadi salah satu tim dengan lini serang paling wahid saat itu. Namun sayang, sebuah blunder yang diselimuti dengan kesombongan dilakukan oleh Manajemen El Real yang melepas “sang jantung” tim, Makelele ke Chelsea.

“We will not miss him, his technique is average, he lacks speed and skill, his distribution goes backwards or sideways. New players will arrive to make us forget Makelele”.

Begitulah ucapan kesombongan yang dilontarkan oleh manajemen El Real waktu itu ketika memutuskan untuk melepas Makelele.

Sejak kepergian Makelele, Real Madrid harus menerima pil pahit dengan harus puasa gelar selama 3 tahun berturut – turut. Sedangkan Chelsea bisa bernari ria dengan berbagai trophy Premier League, Piala FA, maupun Piala Carling.

Lantas dimanakah kesalahan yang dilakukan oleh manajemen Real Madrid?

Seperti yang terdapat pada kalimat pembuka di artikel ini, “if you took out Makelele from the team, so you took out the heart of their team”. 

Manajemen El Real terlalu sibuk untuk mendatangkan mesin – mesin baru seperti Beckham maupun yang lainnya. Namun ketika mesin – mesin itu telah berkumpul lengkap untuk melakukan pekerjaannya, sang poros utama yaitu jantung, justru dilepas begitu saja. Ya, dalam permainan Real Madrid, peran Makelele sebagai holding midfielder merupakan peran sebagai jantung tim dimana peran tersebut merupakan peran yang sangat vital.

Kembali ke judul artikel ini, lalu apa hubungannya dengan Arsenal?

Sejak era Patrick Viera, Arsenal seakan kehilangan sosok Holding Midfielder yang bisa membawa trophy – trophy kembali menghiasi tim yang bermarkas di Emirates Stadium ini.


Nama Alex Song sempat menjadi pembicaraan publik. Namun sikap yang tidak baik kerap diperlihatkan oleh Song sehingga Wenger tak mau ambil pusing ketika Barcelona datang untuk membelinya.

Inkonsistensi penampilan sang kapten Mikel Arteta, ditambah badai cedera yang kerap menerpanya membuat Wenger kehilangan sosok sentral di posisi Holding Midfielder ini dalam beberapa tahun terakhir.

Pada bursa transfer musim panas tahun lalu, Wenger sempat dikritik atas kebijakan tarnsfernya yang justru tidak mendatangkan seorang pemain baru di posisi ini. Wenger memang sempat berkilah dengan alasan Callum Chambers yang didatangkan dari Southampton merupakan seorang pemain serba bisa yang juga dapat menempati posisi Holding Midfielder. Namun seiring dengan berjalannya musim baru 2014/2015, badai cedera menghampiri lini belakang Arsenal, yang membuat Wenger harus menempatkan Chambers di posisi aslinya yaitu sebagai defender.

Belum selesai badai cedera menerpa lini belakang Arsenal, lini tengah juga kembali dilanda badai yang sama. Badai cedera merupakan salah satu kelemahan besar yang selalu terjadi di Arsenal tiap tahunnya. Namun untuk kasus ini Wenger sepertinya gagal berbuat banyak dalam menemukan solusinya. Cederanya Arteta, Wilshere, dan Diaby membuat Flamini menjadi opsi tunggal di posisi ini. Tentu kita semua tau bagaimana penampilan Flamini yang sama halnya dengan Arteta, selalu mengalami inkonsistensi permainan.

Pada bursa transfer musim dingin tahun lalu, Schneiderlin saat itu santer dikabarkan akan bergabung dengan Meriam London. Tapi kegigihan Southampton untuk mempertahankan sang pemain kunci membuat Arsenal harus gigit jari.

Wenger tak memiliki opsi lain kecuali melakukan opsi terakhir yaitu memanggil kembali sang pemain pinjaman dari Charlton Athletic, Francis Coquelin. Singkat cerita, bergabunglah sang “anchorman” asal Perancis ini bersama meriam – meriam muda london lainnya.

Seakan menemukan cinta sejatinya, kepercayaan Wenger memberikan kesempatan kepada Coquelin dijawab dengan sangat baik olehnya. Coquelin memainkan perannya sebagai holding midfielder dengan begitu sempurna. Puncaknya ketika Arsenal berhasil mengalahkan Manchester City 2 – 0. Pergerakan Coquelin yang selalu tepat ketika melakukan recovery maupun interception, ditambah kekuatan tackelnya yang begitu kuat, membuat coquelin berhasil menjadi tembok bagi lini pertahanan Arsenal yang sulit untuk ditembus. Selain itu ia juga kerap menjadi penyambung antara lini belakang ke lini depan ketika Arsenal membangun serangan. Disinilah letak kesempuraan peran seorang Coquelin.

Sejak saat itu, Wenger mempercayakan sepenuhnya posisi ini kepada sosok “tak terduga” yang terpatri pada diri Coquelin.

(Gambar diperoleh dari situs Whoscored.com)
Keberhasilan Arsenal meraih posisi Runner Up di Premier League serta menjadi jawara Piala FA adalah bukti nyata dari kontribusi “peran penyeimbang” yang diberikan oleh Coquelin bagi lini bertahan dan lini menyerang Arsenal.

“Six months ago I was at Charlton and today I’m winning the FA Cup. Football can go so quick and I’m really pleased to get this trophy. It was a big day in my career.”

Begitulah ucapan dari seorang pahlawan baru Arsenal yang mengalami perubahan hidup begitu cepat dalam 6 bulan terakhir.

Tanpa mengesampingkan peran heroik dari Alexis Sanchez serta kejeniusan Santi Cazorla sebagai jenderal lini tengah, peran Coquelin sebagai holding midfielder tentu juga memiliki dampak yang sangat besar bagi Arsenal di musim lalu. Dapat dibayangkan bagaimana keroposnya lini pertahanan Arsenal jika saja Coquelin tidak hadir pada interval kedua premier league musim lalu.

Untuk menghadapi musim baru 2015/2016, Arsene Wenger setidaknya bisa sedikit bersantai karena permasalahan keberadaan seorang holding midfielder sudah ada solusinya pada diri Coquelin. 

Keputusan manajemen Arsenal yang baru – baru ini untuk memperpanjang kontrak sang kapten tim, Mikael Arteta adalah keputusan yang sangat tepat. Selain sebagai pemimpin tim, tentu kehadiran Arteta membuat Coquelin bisa belajar lebih banyak dari sang kapten mengingat usia Coquelin yang masih tergolong muda.

“'I want to be the next Patrick Vieira”, merupakan suatu janji dari seorang Coquelin kepada dirinya maupun manajemen serta fans Arsenal.

Welcome the new heart of this team, Francis !!!

@Randabola, 9 Juli 2015, Kota Khatulistiwa

#SuperSoccerGoesToSingapore

Rabu, 08 Juli 2015

AC Milan 2.0

Tulisan ini terinspirasi dari program #SuperSoccerGoesToSingapore yang dalam beberapa hari ini menghiasi timeline twitter saya. Sudah lebih dari 2 tahun paspor saya menganggur tidak terpakai dan kini Super Soccer memberikan peluang agar paspor tersebut bisa kembali terisi. Semoga saja rezekinya saya deh.


Berbicara tentang AC Milan, tentu bagi mereka para penikmat sepakbola yang terlahir sejak tahun 90’an hanya mengenal AC Milan dengan era manajemen Berlusconi. 

Setelah mengalami musim yang buruk diawal tahun 1980’an yang menyebabkan AC Milan degradasi ke Serie-B, seorang enterpreneur Italia, Silvio Berlusconi datang bagaikan seorang pahlawan pada tahun 1986 dengan melakukan revolusi besar-besaran. Pelatih sekelas Arrigo Sacchi di datangkan ke Kota Milan disertai dengan trio Belanda, Marco Van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit. Disusul dengan kedatangan Roberto Donadoni, Carlo Ancelotti, dan Giovanni Galli, dimana kemudian lahirlah sebuah babak baru era kejayaan AC Milan.

Tidak perlu menunggu waktu lama untuk melihat hasil revolusi ala Berlusconi ini. Hanya dalam waktu satu tahun, trophy Serie-A berhasil kembali ke genggaman AC Milan, dan di tahun berikutnya, AC Milan berhasil memenangkan gelar Liga Champions untuk ketiga kalinya.

Setelah era Arigo Sacchi, era keemasan AC Milan masih tetap lanjut dibawah sang pelatih Fabio Capello. Bahkan di masa Don Fabio ini, AC Milan mendapat julukan sebagai The Dream Team dengan rekor 58 pertandingan tanpa satu pun kekalahan.

Era Don Fabio berakhir, estafet kepemimpinan AC Milan di bawah Berlusconi masih berlanjut dengan berbagai macam pelatih yang pernah singgah di kota ini. Mulai dari Oscar Tabarez, Alberto Zaccheroni, Cesare Maldini, Fatih Terim, Carlo Ancelotti, Leonardo, Massimiliano Allegri, Clarence Seedorf, hingga yang terakhir yaitu Filippo Inzaghi.

Dari sejumlah nama tenar diatas yang pernah mengisi kursi pelatih AC Milan, mereka memiliki satu kesamaan, yaitu sama – sama berada di bawah kepemimpinan sang pemilik klub, Silvio Berlusconi, yang juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Italia.

Beberapa pekan terakhir, revolusi kembali terjadi di tubuh AC Milan. Sang pemilik klub, Opa Berlusconi akhirnya resmi melepas 48 persen saham Milan kepada Mr. Bee, pebisnis asal Thailand. Walaupun begitu, Opa Berlusconi tetap memegang saham klub terbesar sebayak 52 persen. Namun setidaknya ini merupakan suatu langkah yang sangat ditunggu – tunggu oleh para penggemar AC Milan, melihat dalam 5 tahun terakhir ini AC Milan seakan tidak mampu untuk berbicara banyak di bursa transfer maupun kompetisi domestik mengingat krisis keuangan yang menjerat tim merah-hitam ini.


Pucuk dicinta, ulam pun tiba ! Revolusi perpindahan 48 persen saham ke pebisnis Thailand itu mulai menghadirkan angin – angin keoptimisan bagi para Milanisti.

Sang Entrenador dari kota Sampdoria, Sinisa Mihajlovic, didatangkan ke kota Milan untuk menggantikan posisi Filippo Inzaghi yang dinilai gagal setelah hanya bisa membawa AC Milan menempati posisi ke 10 di Serie-A.


AC Milan pada bursa transfer – trasnfer sebelumnya yang lebih dikenal sebagai tim yang doyan mendatangkan pemain “gratisan”, kini tampak berbeda. Manajemen AC Milan kini tak segan untuk menggelontorkan banyak uang demi mendatangkan pemain – pemain baru yang memiliki kualitas, seperti halnya yang terjadi di era 90’an dan awal 2000’an.

Tentu apa yang dilakukan oleh manajemen AC Milan pasca adanya revolusi kepemilikan menjadi sebuah perubahan signifikan yang dirasakan oleh para Milanisti.

Jika dulu ketika Opa Berlusconi datang pertama kalinya sebagai pemilik klub di tahun 1986 merupakan suatu awal dari cerita emas AC Milan yang pernah menghiasi sejarah di Italia dan di Eropa, maka kini setelah AC Milan sempat terpuruk dalam beberapa tahun terkahir, dan Revolusi kepemilikan jilid 2 era Berlusconi & Mr. Bee dimulai, maka sudah sepatutnya lah para Milanisti kembali muncul di permukaan untuk menyambut datangnya sebuah era baru Milan 2.0 yang siap untuk kembali memperlihatkan bahwa klub ini merupakan salah satu klub terbaik di Italia dan Eropa !

Welcome the new Milan 2.0 !!!

#ForzaMilan
#InMilanWeTrust
#Milan2.0

@Randabola, 8 Juli 2015, Kota Khatulistiwa

Kamis, 07 Mei 2015

Say Tidak Membenci Chelsea



Kemarin malam, saya mendapati pesan masuk di BBM dari seorang teman yang notabene merupakan penggemar Chelsea. Pesan yang dikirimnya berbunyi “Boring - Boring Chelsea”. Uniknya, pesan itu ia kirim tepat setelah wasit meniupkan peluit panjang pertandingan yang menandakan Chelsea keluar sebagai juara BPL 2014/2015. Tanpa menunggu lama waktu, saya segera membalas pesan tersebut dengan kalimat “memang boring”.
Setelahnya kami berbalas pesan yang hingga pada akhirnya ia mengatakan “Haters Gonna Hate”.
Saya tersenyum dan tidak membalas pesan tersebut. Ditulisan ini lah saya mencoba untuk menjawab pernyataan yang ia tuturkan tadi malam.
Benarkah saya Hatersnya Chelsea?
Maka dengan senyuman, saya akan menjawab bukan. Saya tidak membenci Chelsea. Hanya saja saya tidak senang jika menyaksikan sebuah tim yang bermain dengan strategi defensive. Saya paham itu memang merupakan bagian dari taktik. Tapi itu sungguh membosankan untuk ditonton !
Dalam konteks ini setiap orang mempunyai pendapatnya masing-masing. Tidak salah jika ada orang yang menyukai strategi yang dipakai oleh Chelsea tersebut. Namun secara pribadi, saya adalah penikmat sepakbola atraktif. Sehingga saya akan menjadi tokoh antagonis terhadap tim yang bermain ala “parkir bus”.

Apakah Chelsea bermain seperti itu ditiap pertandingan? 
Tentu saja tidak. Pada musim ini khususnya di Premier League, saya cukup sering menyaksikan Chelsea bermain dan saya rasa Chelsea hanya di beberapa pertandingan saja bermain seperti itu (bermain “parkir bus”). Selebihnya mereka mempertontonkan permainan yang atraktif nan menyerang. Dan saya menikmati itu. Dengan Fabregas sebagai jembatan antara lini belakang dan lini depan, kemudian Hazard dan Oscar sebagai kreator serangan, serta Diego Costa sebagai finisher yang mematikan, sungguh permainan menyerang Chelsea begitu indah untuk dinikmati. Juga jangan lupakan peran Ivanovic yang seringkali melakukan tusukan dari kanan, ataupun Terry dan Cahill yang pandai mencari posisi ketika Set Pieces dilakukan.
Jika melihat secara komposisi pemain, maka menurut saya Chelsea adalah tim yang paling komplit di premier league musim ini. Hal tersebut bisa kita lihat pada statistik baik dalam urusan mencetak gol ataupun kebobolan. Lini belakang dan lini depan Chelsea sama - sama kuat !
Hanya saja faktor kepragmatisan dari seorang Mourinho yang terkadang membuat Chelsea menjadi terlihat “boring”. Saya tidak menyalahkan strategi Mourinho yang pragmatis. Bahkan menurut saya, Mourinho adalah salah satu pelatih hebat yang memiliki mental dan strategi yang mumpuni. Namun kembali kepada statement awal, saya adalah penikmat sepakbola atraktif. Sehingga saya akan berperan antagonis ketika melihat sebuah tim menampilkan sebuah permainan ala “parkir bus”.
Karena filosofi saya (termasuk filosofi ketika bermain PES), pertahanan terbaik adalah menyerang dan terus menyerang.
Sekali lagi, saya bukan Hatersnya Chelsea. Tetapi bagi tim manapun yang bermain pragmatis defensive, saya akan mengkritiknya. Terlebih jika tim itu adalah tim besar dengan kapasitas pemain diatas rata-rata.

Salam sepakbola atraktif nan menyerang !

#SuperSoccerGoesToSingapore

4 Mei 2015, di tengah Pemirama Untan
Randa Reynaldi - Guru Negarawan - Pengamat Sepakbola - School For Nation Leader 1